Menu

Monthly Magazine Home: Drama Pergulatan Milenial untuk Bisa Punya Rumah di Korea Selatan

Drakor Monthly Magazine Home mungkin gak terlalu familiar karena gak gitu terkenal. Padahal, inti ceritanya lumayan memberikan knowledge tentang cara dan kiat untuk memiliki rumah di usia muda. Cucok, kan, buat milenial malang macam kita-kita?


Isi Drakor Monthly Magazine Home

Monthly Magazine Home


Drama Korea ini menggambarkan kondisi generasi pencari kerja yang rata-rata memang susah untuk punya rumah. Si tokoh utamanya, Jung So Min, adalah seorang editor majalah yang kondisinya sudah bangkrut. Ia menjadi pengangguran sementara dan nggak punya uang cukup untuk bisa pindah rumah.


Padahal, kos-kosan tempat tinggal dijual sama pemiliknya dan uang depositnya tidak dikembalikan. Dalam kondisi serba sulit ini, Jung So Min dipertemukan sama tokoh utama pria, Kim Ji Suk yang memerankan karakter menyebalkan yang menyita bangunan kos-kosan tersebut. Karena sangat kesal, Jung So Min sampai menyerang Kim Ji Suk dan memukulnya dengan makanan yang baru ia beli. 


Singkat cerita, Jung So Min dapat pekerjaan di kantor majalah perumahan yang bosnya adalah Kim Ji Suk. Dari sinilah, ia memahami bahwa dirinya sebenarnya bisa memiliki rumah sendiri jika berniat sungguh-sungguh dan berhemat mati-matian. 


Karena Kim Ji Suk, perjalanan berhemat yang super lucu dilakukan oleh Jung So Min. Kisah berhematnya kadang terkendala kecelakaan di tempat kerja, kadang juga gagal karena teman-teman kerjanya terus menerus minta traktir, atau gagal karena emaknya di rumah minta dikirimkan uang. 


Kiat Berhemat dari Monthly Magazine Home

Monthly Magazine Home

Kalau untuk di Indonesia sendiri, menyiapkan biaya rumah bisa dimulai dari DP terlebih dahulu. Nah, untuk bisa punya DP rumah yang terbilang cukup tinggi memang perlu menabung. Cara untuk bisa menyisihkan pendapatan adalah dengan mencari passive income atau berhemat. Karena berhemat lebih masuk akal dan mudah, Jung So Min memilih cara ini untuk bisa mengumpulkan uang.


Dia dengan sengaja menghentikan kebiasaan minum kopi dari kafe. Ia juga menahan diri untuk tidak membeli pakaian baru yang sedang diskon. Bahkan, ia sekarang memiliki limit budget untuk sekadar makan sehari-hari. Huhu, kasihan, kan.


Kisah Ending Percintaan di Monthly Magazine Home

Monthly Magazine Home

Sosok karakter yang diperankan Jung So Min mewakili cinta dan kasih sayang. Ia begitu peduli sesama dan memiliki empati yang tinggi. Sedangkan, Kim Ji Suk mewakili karakter orang kaya ngeselin yang punya banyak properti. Kalau mereka berdua digabungkan jadinya: house + love = home. Yah, begitulah kira-kira inti dari drama ini.


Sebenarnya, Kim Ji Suk juga nggak nyebelin banget, sih. Ia hanya memiliki masa lalu yang keras sehingga lebih waspada terhadap usaha dan bisnisnya. Ia juga membangun pagar pembatas agar tidak terlalu mengikat perasaan terhadap rekan kerja. 


Kisah dari Karakter Sampingan yang Juga sama Pentingnya

Monthly Magazine Home

Selain kisah utama dari Jung So Min, ada banyak kisah menarik lainnya yang sama-sama punya konflik mendalam gara-gara rumah. 


Misalnya saja seperti ketua redaksi majalah ini yang punya problematika besar sama sang istri. Mereka berdua memutuskan untuk menunggu renovasi apartemen alih-alih pindah. Karena keputusan yang kurang tepat ini, mereka masih tinggal di apartemen yang setengah jelek dengan kerusakan di mana-mana.


Salah satu editornya juga mengalami cinta yang kandas karena rumah. Ia tak kunjung menikah karena calon mertua memberikan syarat untuk bisa memiliki apartemen sebelum menikah. Pada akhirnya, ketika ia sudah memiliki apartemen sendiri, pacarnya malah selingkuh sama rekan kerjanya. Ck, hidup memang pahit.


Milenial Korea dan Indonesia yang sama-sama Sulit untuk Punya Rumah


Hal ini pernah dibahas oleh Tirto di akun Youtube-nya tentang alasan anak muda di Korea lebih memilih untuk membuang uangnya untuk foya-foya ketimbang nabung beli rumah. Alasannya adalah karena tingginya harga rumah dan rendahnya pendapatan yang ada di sana. 


Jenjang karir juga tidak mudah untuk diraih karena tingginya nepotisme di sana sehingga rata-rata yang memiliki kesempatan untuk naik pangkat hanyalah yang memiliki hubungan keluarga dengan atasan di tempat kerja.


Kalau di Indonesia mungkin masalahnya juga setipe. Selain karena generasi sandwich, yang mesti membiayai orangtua dan diri sendiri, harga rumah juga udah selangit kalau dibandingkan dengan gaji yang terkesan ‘rendah diri’. 


Kalau sudah begini, bagusnya gimana ya? Bisakah berharap bahwa takdir akan mempertemukan kita dengan jodoh seperti Kim Ji Suk yang memiliki banyak properti?


Baca juga: The Medium, Kutukan Letal Lintas Generasi Keluarga dukun di Thailand



No comments:

Post a Comment

Labels