Menu

Memoar Mbah di Jawa: Aku Ingin Pulang

Hari ini Mbah saya meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Heran juga. Saya sama sekali tidak merasa sedih. Merasa kehilangan, iya; merasa hampa, iya; merasa ada yang kosong di ujung hati, iya. Tapi tidak dengan merasa sedih.

ppkm tak bisa pulang
Saya memang tidak dekat dengan Mbah yang ada di jawa, Saya jarang mengunjunginya. Dan ketika pulang kampung pun saya jarang ngobrol panjang lebar dengan dirinya. Ia memang sudah sangat sepuh, sudah menyentuh angka 80 tahunan.

Hal yang justru pikirkan adalah orangtua saya sendiri. Apakah ia bersedih karena kehilangan orangtuanya? Saya lihat pagi ini ia (ayah saya) tetap pergi ke kebun seperti biasa. Ia tidak bisa menengok Mbah di Jawa karena PPKM level 4 (level paling pedas) kali ini pasti akan sangat menyulitkan kegiatan bepergian.


Ayah saya masih menunjukkan sikap yang biasa. Diam seperti biasa, jaga toko seperti biasa, dan bercanda dengan anak kecil tetangga seperti biasa. Yang tidak biasa kali ini adalah ia tidur siang. Pertama kalinya ia tidak mengambil jatah jaga toko shift siang.


Ketika magrib dan memimpin sholat magrib, ia meminta keluarganya untuk melakukan sholat gaib untuk ibunya yang kini sudah berpulang untuk selamanya.


Kejadian ini jelas akan membuat saya berpikir tentang masa depan, ketika nanti saya sudah sama-sama tua dengan suami dan akhirnya juga akan meninggalkan dunia ini sendiri-sendiri. Mungkin saya juga tidak akan merasa sedih lagi karena sudah hidup begitu lama. Paling tidak dengan umur yang sudah menyentuh kepala 60-an, manusia biasanya sudah bersiap diri untuk endgame dari kehidupan. 


Niat saya tentu saja hidup dengan mulia, tidak menyusahkan anak dan suami, serta mati dengan mudah. Saya tentu menginginkan kehidupan di mana saya bisa memperoleh penghasilan bahkan tanpa bantuan anak-anak saya ketika mereka beranjak dewasa nanti. Saya ingin seperti Mbah di Jawa yang bahkan bisa mengirimi anaknya (Ayah saya) uang ketika panen raya sudah tiba.


“Ini Le, ibu kirimkan uang.” sahut mbah saya lewat telepon.


Ayah saya yang kebingungan jelas menjawab, “Buat apa Bu? Simpan saja untuk ibu sendiri. Tidak usah repot-repot mengirimi ke sini.”


“Aku ini sudah tua, gak tahu lagi uangnya mau diapain, jadi ya mending dikirim ke kamu saja.” 


Percakapan ini real terjadi. Dan kalimat menyenangkan tentang bingung uang ini mau dipakai untuk apa jelas menjadi kalimat privilege yang gak akan bisa dikatakan oleh semua mbah-mbah 80 tahunan. Saya pengen jadi seperti itu.


Yah, yang namanya mimpi kan boleh, ya. Dulu saya pernah bermimpi untuk segera mengumpulkan harta duniawi melalui jalur saham seperti yang sering dipopulerkan Raditya Dika. Tapi, kok ya ternyata saham gak semudah kelihatannya. Apalagi kata-katanya Raditya yang mengatakan sebaiknya memulai saham dengan menanamkan mental siap kehilangan uang. Wong aku kehilangan 10 ribu aja rasanya masih belum siap!


Akhirnya niatan untuk memperkaya diri lewat saham kandas seketika. Daripada menanam saham, sepertinya saya akan mulai menanam Aglonema saja.


Kematian mbah dalam kondisi terbaiknya seperti ini mengingatkan saya dengan kematian tetangga yang sama-sama punya cerita magisnya.


Jadi, tetangga saya memang sudah tua. Laki-laki yang umurnya sudah menginjak usia 70 tahunan. Tiba-tiba ia muntah hebat dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Istrinya yang sudah sama-sama tua tidak meneteskan air mata. Mungkin ia sudah tahu akhir kehidupan akan siap menjemput kapan saja. Hanya saja kali ini suaminya yang duluan.


Sang istrinya mendapati senja yang gelap dan sepi. Semua orang yang melayat sudah beranjak pulang masing-masing ke rumah. Ia sendirian dan mendapati kini dirinya harus menyalakan lampu teras sendiri, aktivitas yang biasanya dilakukan sang suami sebelum berpulang.


Dalam kondisi beini, menghamburlah tangisan sang istri mendapati betapa hampanya ruang kosong yang ditinggalkan suaminya hari ini.


Kejadian ini sudah lama terjadi, jauh sebelum pandemi dimulai. Di tengah banyaknya berita duka tentang kematian manusia, izinkan saya mempersembahkan tulisan ini sebagai kenang-kenangan terakhir untuk Mbah saya di Jawa. Semoga ia mendapati balasan yang baik atas segala amalnya di dunia.  


Semoga pandemi ini bisa segera selesai.


Saya ingin pulang ke Jawa.


Baca juga: Kingdom, Drama Korea Ajib Gile yang Bikin Merinding Disko


sumber gambar: freepik

No comments:

Post a Comment

Labels