Menu

Drama Move To Heaven dan Problematika Orang Kota

Drama Move To Heaven yang digarap layanan menonton streaming Netflix cukup menarik perhatian banyak orang. Drama yang dirilis bulan Mei lalu memang cukup unik, episode yang sedikit, dan bumbu-bumbu cinta di dalam drama ini menjadi sesuatu yang lucu dan khas dengan banyak pesan moral tentang problematika yang umumnya terjadi pada insan-insan yang tinggal di perkotaan.


Kisah drama ini menceritakan tentang jasa pembersihan kamar bagi orang yang sudah meninggal. Simple kan ya kedengarannya? Tetapi selalu ada kisah menarik dari setiap kegiatan pembersihan yang mereka lakukan. Ada kisah dan cerita yang seolah ingin disampaikan oleh almarhum pada orang yang mereka tinggalkan. 


move to heaven


Yap, sedikit banyak cerita drama Move to Heaven memang relevan dengan kondisi saat ini. Mulai dari episode pertama yang menceritakan tentang eksploitasi pekerja kelas bawah lalu para tetingginya berusaha menghindari tanggung jawab dengan memberikan keterangan dusta pada keluarganya sampai kisah tentang mal yang runtuh di Korea Selatan yang memang benar terjadi di tahun 1995. 


Kisah-kisah para mendiang ini membuka cakrawala penonton tentang kerasnya kehidupan ibukota yang bahkan bisa mengubah manusia dan mengenyahkan kemanusiaan. 


Salah satu episode drama ini juga ada yang menceritakan tentang orangtua yang mati dalam kesendiriannya. Dalam masa-masa terakhirnya, ia menderita demensia dan melakukan beberapa kegiatan yang sama selama beberapa tahun. Ia rutin menarik uang dengan nominal yang sama dan mengunjungi toko tukang jahit yang sama untuk memesan baju jas untuk anak lelakinya.


Namun, si anak lelaki yang tak tahu diri ini justru sama sekali tidak menunjukkan kekhawatiran ketika ibunya meninggal dalam kesendirian di dalam kamarnya. Kepada jasa Move to Heaven ia meminta untuk segera mencari uang atau buku rekening ibunya. Ck, asem memang! Untung saja pemeran karakter yang menyebalkan ini bukan babang Lee Min Ho!


Namun, khas drama korea yang selalu punya sisi romantis, episode ini ditutup dengan penyesalan si anak karena menemukan bahwa hadiahnya untuk sang ibu tidak pernah dibuka sama sekali. Seketika memori indahnya bersama sang ibu mengalir lagi dengan penuh rasa pilu.


Kisah ini mengingatkan saya sama kolega yang juga berubah karena problematika hidup. Dalam keseharian ia berperilaku sangat baik dan sopan. Meskipun sedikit pendiam, semua orang pastilah bisa sepakat bahwa ia memang berahlaqul karimah, tidak seperti pejabat negara yang tega-teganya mengorupsi duit untuk bansos.


Sampai pada suatu ketika ia masuk ke dalam surat kabar (aih, jadul amat masih pakai surat kabar) karena kasus pembunuhan. Yak. PEMBUNUHAN. 


Menurut berita itu, ia membunuh pelacur dan sekaligus mencuri uang milik pelacur tersebut. Ngeri, kan?


Saya dan teman-teman jelas terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa tentang kasus ini. Betapa manusia bisa berubah karena perjalanan hidup yang keras. Huooo.


Pada episode awal drama ini tentang eksploitasi pekerja kelas bawah juga sangat relevan dengan kondisi sekarang yang serba susah. Kondisi keuangan yang rumit, beban keluarga, dan persaingan yang ketat di ibukota  menjadikan eksploitasi menjadi hal yang lumrah. Undang-undang perlindungan tenaga kerja hanya menjadi semacam basa-basi yang manis.


Pada akhirnya, ibukota memang lebih kejam daripada ibu tiri. Moral dan mental yang terkikis rutinitas dan persaingan di tempat kerja membuat kemanusiaan mendadak hilang jadi debu lalu tertiup angin. Manusia menjadi raga-raga yang kosong. 

No comments:

Post a Comment

Labels