Menu

Tips Membiasakan Sikat Gigi pada Anak Berdasarkan Buku Parenthink

Tips Sikat gigi pada anak buku Parenthink Mona Ratuliu

Buat saya, pembiasaan sikat gigi ke buah hati memang penuh cobaan berliku yang punya banyak persimpangan jalan. Berbagai taktik, mulai dari yang halus, alon-alon, sampai yang pakai "pemaksaan" sudah pernah saya coba lakukan.

Namun sebagai rang tau tentu saya tak suka jika anak melakukan kegiatan yang bermanfaat dengan cara yang tak enak. Masak iya saya harus memaksanya sampai besar. Padahal kan kan sikat gigi adalah kebutuhannya sendiri yang mesti ia bisa lakukan dengan tenang sukarela.

NAh, setelah saya membaca buku parenthink karya Mona Ratuliu, ternyata ada beberapa tips dan trik yang bisa digunakan untuk membujuk rayu dan menggombal bocil untuk mau melakukan kegiatan sikat gigi secara teratur.



Lihat postingan ini di Instagram

Parenthink / Mona Ratuliu / Noura Books / 201 hlm / 2016 / baca via @ipusnas.id Rata-rata isi buku parenting selalu didahului tulisan tentang rasa kaget penulisnya karena pada kenyataannya menjadi orang tua tidak sebahagia yang terlihat di televisi. Ternyata kita gak bisa menyusui anak dengan gaya secantik ibu ibu di iklan susu menyusui, ternyata gak bisa menikmati tidur malam, dan ternyata ternyata lainnya yang gak enak semua. Buku ini pun begitu. Di awali dengan curahan hatinya Mona Ratuliu dalam mengahadapi konflik berkepanjangan dengan anak pertamanya, hingga sampai ke puncak di mana anak berumur 6 tahun berniat melarikan diri dari rumah, ia memutuskan untuk berbenah diri. Hiks, sampai di sini aja saya udah mbrebes mili bacanya, ternyata revisian skripsi terasa lebih mudah ketimbang punya anak 😜 Penulisnya mengusung gagasan parenting dengan teori tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara. Ing Ngarso Sung Tulodo, Ingin Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Ringkasannya begini: memberi contoh teladan yang baik, menjadi sahabat bagi anak, dan memberikan dorongan yang tepat. Penulisnya juga memberikan tips dan trik bagaimana bernegosiasi dengan anak, cara berkomunikasi, sampai soal memberikan nasehat lewat cara mendongeng. Buku ini oke bangetlah, mulai dari kontennya sampai gaya penulisannya yang sama sekali tidak terkesan menggurui. Very recommended. #oneweekonebook #owob #buibubacabuku #bookstagram #parenthink #monaratuliu #samarindablogger #resensiriri #bookstagramindonesia #sahabatipusnas
Sebuah kiriman dibagikan oleh Rian Andini (@rianandini999) pada

Berikut listnya.


Membacakan Dongeng Nasihat

Ini ampuh banget sih buat anak saya yang emang males banget buat disuruh sikat gigi. Anak saya berumur tiga tahun itu kebetulan suka dengan hewan dinosaurus. Ayahnya juga sering membuatkan dongeng menggunakan bayangan di dinding menggunakan tokoh dinosaurus.

Jadi, tiap sebelum tidur, kami bertiga menikmati dongeng siluet menggunakan penerangan yang memang dibuat remang remang supaya bayangan di dinding kamar semakin jelas.

Biasanya, saya yang rekues sama suami apa isi cerita hari ini. Apakah nasihat tentang makan sayur, berbagai bersama teman, atau tentang anjuran sikat gigi.

Suami saya pintar banget membuat cerita yang sederhana tapi mengena untuk bocil supaya ia tergerak mau sikat gigi.

Ceritanya cukup sederhana. Dinosaurus yang malas sikat gigi, padahal ia habis makan permen dan coklat. Lalu giginya sakit, dan ia terpaksa diantar ke dokter gigi. Hanya seperti itu. Terus, suami saya tambahkan juga cerita soal monster kuman yang suka memakan gigi kotor.

Setelah dongan itu rampung, anak saya yang udah baring pun langsung berdiri meminta sikat gigi.


Memberikan Pilihan

Dalam buku Parenthink nya Mona Ratuliu, cara memerintahkan anak untuk mau melakukan sesuatu adalah dengan memberikannya pilihan bukannya perintah.

Misalnya, si nih anak malas mandi. Jadi, ketimbang menyuruhnyanya untuk mandi, mending berikan ia pilihan untuk mau mandi sama siapa.

Mau mandi sama bunda atau ayah? kalau nggak memilih berarti mandi sama bunda. Dan sang anak langsung saya angkut.

Awalnya ia menangis. Tapi besok-besoknya ia tahu, ia hanya punya dua pilihan, dan tentu saja insting manusianya berkembang. Ketimbang mandi sama bundanya yang nggak asyik, mending mandi sama ayahnya yang punya stok cerita dinosaurus yang banyak.

Tapi, ada kalanya, ketika ayahnya sudah berangkat kerja ia memanfaatkan momen itu untuk merengek minta mandi sama orang yang jelas sudah nggak ada di rumah. Asyem.

Tapi, berhubung saya sudah hidup 25 tahun lebih lama dari dirinya, tentu saya punya cara lain.

Mau mandi sama air dingin atau air hangat?
Kalau nggak memilih berarti mandi pakai air dingin.

Dan, insting manusianya mengambil alih. Di antara dua pilihan buruk yang itu, tentu masih lebih mending pilihan mandi apakai air hangat.

Begitu.


No comments:

Post a Comment

Labels