Menu

Drakor Oh My Baby: Kisah Dilematik antara Kenyataan dan Realitas di Korea Selatan

oh my baby drama realitas jang nara

Sebagai sebuah drama baru, Oh My Baby memang mind blowing sekali. Ketika drama lain sedang membahas kehidupan percintaan yang terkendala karena beda dunia (The King: Eternal Monarch), karena beda spesies (The Legend of The Blue Sea), dan beda zaman (Faith), drama ini justru mengangkat konflik ketika tokohnya sangat ingin punya anak tapi terkendala oleh status jomblo akut.

Jang Nara dalam drama ini berperan sebagai wanita karir yang sangat menikmati pekerjaannya sehingga lupa umur. Ketika ia sudah lumayan tua, ia mendadak ingin sekali memiliki anak padahal ia tak punya pasangan dan tak bisa berkembang biak dengan cara membelah diri seperti amoeba. 

Keinginannya untuk memiliki anak terus meningkat, apalagi ketika ia bertemu dengan salah satu kliennya yang sedang melakukan sesi photoshoot pada anaknya. Saat itu, ia menyarankan pada ibu di sana untuk menulis jurnal kegiatan agar anak memiliki kegiatan yang terpola sedari kecil. 

Ibu tersebut kemudian membantah Jang Nara dengan mengatakan bahwa mengasuh anak itu berbeda jauh dengan menulis artikel parenting. Sungguh menohok, mak. Persahabatan antar perempuan memang keras.

Oh My Baby seakan menjadi penyegar di antara sekumpulan drama yang biasanya hanya menyorot pada cinta antara laki-laki dan perempuan dewasa, bukannya pada anak. Dalam drama ini, cinta justru diawali oleh rasa kasihan pemeran laki-lakinya pada keinginan Jang Nara yang sangat ingin memiliki anak. 

Gaya hidup menjomblo memang sedang menjadi tren di Korea Selatan. Tuntutan pekerjaan yang sangat tinggi, pendapatan yang rendah, serta biaya hidup yang mahal membuat banyak muda-mudi di sana memutuskan untuk menunda pernikahan karena merasa tak sanggup untuk membiayai kebutuhan keluarganya nanti.

Berdasarkan cara pandang seperti muda-mudi korea, hidup menjomblo memang memiliki banyak keuntungan. Kita tak harus pusing memikirkan biaya susu formula apalagi biaya baju gamis baru untuk istri pergi ke pengajian. Semua uang gaji bisa ditabung untuk kemudian dibelikan kursi gaming yang keren seperti para Youtuber atau untuk membeli action figure One Piece yang sebijinya seharga biaya hidup setengah bulan. 

Untuk para perempuan, hidup menjomblo berarti bisa menyisihkan uang gaji untuk membeli skincare Korea yang sayangnya nggak ditanggung sama BPJS. Selain itu, penghasilan jadi bisa dialihfungsikan untuk mencicil rumah impian dengan dekorasi kamar bergaya minimalis dan futuristik.

Oleh karena itu, Oh My Baby memang lebih relate dengan orang Indonesia ketimbang sama muda-mudi di Korea sana. Rating drama ini termasuk yang paling rendah di TV-N karena terus menerus berada di bawah angka lima sejak rilisnya di episode pertama.

Padahal memiliki keluarga seperti impian Jang Nara dalam drama, mempunyai kenikmatan unik yang nggak akan bisa diterjemahkan dalam kata-kata. Memang sih, sisi finansial akan lebih terbebani dengan adanya anak dan pasangan. 

Tapi kehangatan yang tercipta di dalam canda tawa ketika bersama rasanya cukup sebanding untuk membayar tunai beban finansial. Memiliki keluarga yang hangat bisa dibilang termasuk kategori rezeki langka yang mesti disyukuri.

Rezeki memang nggak hanya berupa uang. Kebahagiaan, ketentraman, dan hidup aman dari paparan postingan instagram toxic, juga bentuk dari rezeki.

Tapi, katanya ya, katanya orang, jika kamu percaya uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, mungkin uangmu masih kurang banyak.

Penyebab perceraian tertinggi di indonesia adalah karena finansial, karena uang, mak. Ada standar finansial yang mesti dicapai untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Untuk membentuk keluarga yang hangat memang butuh uang. Sebenernya bukan uang juga sih, intinya adalah memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. 

Untuk menikah dan punya anak, kita nggak harus kayak Nia Ramadhani juga kok, yang bisa arisan berlian dan punya ART yang bahkan bisa membeli baju merk Giordano untuk bekerja di rumah. Melihat fakta itu, rasanya saya jadi sedih. Sepertinya, taraf hidup sebagai ART-nya Nia Ramadhani jauh lebih menjanjikan ketimbang profesi penulis paruh waktu.

Lupakan sejenak ART-nya Nia Ramadhani. Untuk menikah dan punya anak, kita nggak harus kayak Nia Ramadhani juga kok. Hal yang terpenting adalah memiliki finansial yang mumpuni. Mumpuni di sini tentu saja relatif dan bisa luwes sesuai dengan kebutuhan masing-masing. 

Hal terpenting yang perlu dilakukan ketika sadar punya jenjang finansial yang pas-pasan dan ngos-ngosan adalah mengaktifkan fitur senyap pada akun instagram yang memposting travelling, kulineran, dan kehidupan sosialita arisan berlian.

No comments:

Post a Comment

Labels