Menu

Ilusi dalam Iklan Susu Menyusui

Ibu menyusui hormon
Ilustrasi ibu menyusui.

Disclaimer: Artikel ini pernah diterbitkan di website Terminal Mojok tanggal 8 Juli 2019

Sewaktu baru merencanakan kehamilan, saya pikir semua akan berjalan lurus. Di dalam angan-angan, saya yang waktu itu habis melahirkan langsung langsing dan cantik, sedang menyusui bayi yang sedang setengah terpejam. Setelah dedek bayi tertidur pulas, saya kembali mengurus cucian piring ditemani lagu A Whole New World. Ternyata ini memang hanya jadi angan-angan. Rupanya, saya dan iklan menyusui tak ubahnya seperti jomblo yang selalu ditemani drama Korea di malam Minggu.

Setelah punya dedek bayi, saya baru mengetahui beberapa fakta yang mungkin selama ini hampir selalu disembunyikan mamah muda yang selalu terlihat bahagia di Instagram. Di balik rasa lega karena sudah selamat menghantarkan manusia baru ke bumi yang sudah penuh sesak ini, ada perubahan fisik, hormon, serta tingkah laku yang turut serta hadir memeriahkan bahtera kehidupan dengan status baru sebagai seorang ibu.

Kenyataan soal bayi yang seringkali menganggap malam sebagai waktu untuk merayakan kehidupan dan siang sebagai waktu untuk bobo cantik, juga baru saya ketahui setelah memiliki anak sendiri. Seiring waktu, kita pun harus melatih skill baru yakni meletakkan bayi yang sudah tertidur di gendongan ke kasur tanpa terbangun. Saya juga harus terbiasa untuk makan, mandi, dan buang air dalam suasana hectic, karena dirongrong tangisan bayi yang tak ingin terpisah dari emaknya barang semenit. Sungguh emak keluarga Halilintar adalah sosok yang warbiasah. 

Fakta lainnya yang juga tidak pernah dibahas adalah rasa sakit ketika pertama kali menyusui. Yah, gegara melihat emak cantik di iklan yang selalu memasang wajah tersenyum saat menyusui, saya pun tak pernah tahu tentang resiko mastitis atau lecet pada payudara saat pertama kali menyusui. Seharusnya emak-emak di iklan tidak memasang wajah tersenyum sumringah dong ketika menyusui bayinya di depan kamera! Atau setidaknya tolong buat satu mata kuliah yang membahas semua hal ini, sehingga para mahasiswa yang sedang galau karena revisian skripsi tidak mengeluh, ”Mending nikah aja daripada ngerjain skripsi!”.

Tapi hal lain yang jelas jadi penderitaan utama ibu baru ialah stigma sosial yang kadang suka kelewatan. Bahkan, sindiran halus pun bisa membuat ibu sakit hati. Misalnya celetukan tak berarti seperti, “Kok gendutan, ya?”

Saran saya kalau ada yang nyeletuk begini segera sodorkan Undang-undang no 19 tahun 2016 tentang pidana body shaming dengan ancaman penjara maksimal empat tahun dan denda 750 juta rupiah. Yah, EMPAT TAHUN untuk celetukkan “Kok gendutan ya?”. Mamam! Wuahahahaha (ketawa jahat).

Sebenarnya, ada alasan khusus kita semua mesti menjaga kata serta perilaku di depan ibu pasca melahirkan. Secara teori ibu yang sedang mengalami proses melahirkan memang mengalami proses pasang surut hormon yang lumayan signifikan. Saat melahirkan, ibu akan mengalami tumpahan hormon endorfin untuk membantu tubuhnya sendiri mengurangi rasa sakit. Setelah itu, pada hari ketiga hormon ini akan menyusut tajam diikuti dengan hormon lainnya seperti estrogen dan progesteron. Pada momen seperti inilah, kaum emak-emak newbie di seluruh dunia akan rentan mengalami depresi. 

Secara empiris, saya pun mengalami hal ini. Ringkasnya, selama beberapa hari setelah melahirkan saya menjadi pribadi yang mudah sekali menangis. Apalagi setelah buka instagram dan melihat bahwa teman-teman saya sedang jalan-jalan cantik ke Korea sementara saya mandi saja belum sempat. Rambut acak-acakan, rumah acak-acakan, jiwa pun berantakan. Memang benar ungkapan bahwa kita akan bersedih ketika teman sedang mengalami petaka, tapi jauh lebih sedih lagi kalau mereka lebih bahagia.

Tapi, berkaca dari semua keluhan tentang betapa tidak enaknya jadi emak newbie, masih lebih tidak enak lagi menjadi perempuan yang merindukan status jadi emak-emak tapi belum jua diberikan kesempatan. Mungkin, dibalik perjuangan yang memang tak mudah itu, kita mesti banyak-banyak bersyukur.

Semua masalah pasti ada solusinya, katanya sih begitu. Kalau cuma harus jadi sedikit jelek, gendut, dan acak-acakan demi melihat buah hati yang bisa tumbuh dengan bahagia, mungkin itu hanyalah sebuah pengorbanan yang nilainya amat kecil.

Sementara itu, bisakah setidaknya bintang iklan ibu menyusui memakai sedikit realita dengan menggunakan artis yang dibuat sedikit jelek, gendut, dan acak-acakan?

No comments:

Post a Comment

Labels