Menu

Buku Loving The Wounded Soul, Memandang Depresi dari Sudut yang Baru


Judul: Loving The Wounded Soul
Penulis: Regis Machdy
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2019

Buku ini merupakan perwujudan yang tepat untuk mendapat sebutan buku pengetahuan populer tentang ilmu seputar psikologi manusia. Soalnya temanya berat tapi disajikan dalam bahasa yang mudah. Penulisnya sendiri merupakan penyintas penyakit depresi menahun.

Di dalam  buku ini kita diajak untuk melihat depresi dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Jadi, jangan berekspektasi bahwa buku ini akan terasa membosankan karena pada dasarnya ini memang bukan buku teori. Jadi, langsung aja ini sinopsisnya.

Sinopsis

Pada awalnya buku ini menceritakan pengalaman penulis saat menghadapi depresi yang menimpanya. Ia sendiri merupakan seorang yang memiliki fisik yang tidak begitu baik sehingga sering dibuli oleh teman-teman sekolahnya. 

Saya rasa, alasan mengapa buku ini begitu bagus karena penulisnya menuliskan pengalamannya sendiri selama bertahun-tahun saat mengidap depresi, perjuangan untuk kesembuhannya, dan bagaimana ia akhirnya bisa mempelajari penyakitnya dan menemukan solusinya sendiri. Saya bisa merasakan bahwa penulis dan buku ini adalah satu entitas yang sama. 

Penulis memulai bercerita soal penyebab stress yang berbeda pada tiap orang. Ada yang takut pada mengemudi, takut ruangan sempit, takut berbicara di depan umum, atau takut jatuh cinta karena pernah tersakiti (tjieh). Perbedaan ini yang membuat kita sebagai manusia harusnya bisa saling menghargai dan tidak meremehkan beban yang sedang diderita penderita stress. 

Perasaan depresi dan stress sesungguhnya gak melulu berkonotasi negatif. Dengan adanya stress, manusia belajar untuk memperbaiki diri dan mengalami proses pendewasaan untuk menjadi lebih bijaksana.

Ada satu hal unik yang perlu diketahui dalam kasus depresi berujung bunuh diri, yakni gender laki-laki mendominasi sekitar 75% dari seluruh tindakan bunuh diri. Padahal, sepengetahuan kita selama ini wanita-lah makhluk yang rentan depresi. Namun, yang benar-benar melakukan tindak bunuh diri adalah kaum laki-laki.

Faktor yang mendorong banyaknya laki-laki untuk memutuskan bunuh diri adalah pola asuh yang menekan laki-laki untuk berlaku tegar dengan menekan emosi. Penulis menyebutnya jebakan maskulinitas.

Well, topik yang dibahas dalam buku ini memang beragam. Saya akan menyebutkan beberapa topik secara acak .

Apakah obat Antidepresan cukup bermanfaat?

Menurut penulis sebagai akademisi psikologi, antidepresan hanya akan memperparah depresi. Pasien depresi yang Ketergantungan obat antidepresan memiliki peluang kembali depresi 56%.

Obat antidepresan bekerja dengan menitikberatkan pada peningkatan hormon serotonin dalam badan, terbukti begitu efektif menyembuhkan depresi. Karena depresi itu sendiri merupakan penyakit yang memiliki akar yang cukup completed, maka penyembuhan seharusnya dilakukan secara holistik, dengan terapi berkala, sehingga kesembuhan bisa dilakukan dengan menyeluruh.

Relasi Pola Makan dan Depresi

Saya sangat percaya bahwa pola makan akan berpengaruh terhadap kesehatan jiwa. Selama jadi penderita maag bertahun-tahun, saya belajar bahwa ada kalanya saat saya memilih makan secukupnya, gak pake ngemil-ngemil yang enak-enak itu, badan jadi lebih sehat.

Di dalam buku ini dijelaskan bahwa pencernaan memiliki begitu banyak mikroba yang dapat meningkatkan hormon serotonin secara alami dalam tubuh. Oleh karena itu, penting bagi manusia untuk selalu memakan makanan yang sehat seperti buah dan sayuran. Penting juga untuk selalu mengonsumsi makanan kaya lactobacillus seperti gandum utuh, yogurt, tempe, dan kimchi. 

Pencarian Makna Hidup 

Manusia prasejarah adalah manusia paling bahagia. Mereka tak perlu memikirkan tentang makna hidup karena mereka disibukkan dengan kegiatan bertahan hidup dan mencari makan 

Sedangkan manusia modern yang sudah tercukupi kebutuhan hidupnya, terlalu banyak menerima informasi dan terlalu banyak punya hal yang harus dikhawatirkan. Mereka terus mencari makna hidup demi menenangkan hati mereka yang gundah. Ada yang mencari lewat agama, pekerjaan, sampai kepada perbuatan bunuh diri.

Sebagai manusia modern, ada baiknya jika kita memiliki satu pelampiasan makna hidup agar jiwa bisa seimbang. Pilihan ada banyak, kita hanya perlu mencari yang disuka. 

Faktor eksternal depresi 

(Budaya). Saya baru mengetahui bahwa depresi bisa diimpor dari negara lain. Misalnya, depresi yang membuat gejala anoreksia dari barat muncul di Cina dengan bentuk yang berbeda. Contoh lainnya adalah depresi buatan di Jepang demi promosi obat hormon di sana.

(Alam). Alam jelas mempengaruhi mood seseorang. Dalam skala yang lebih besar, bahkan bisa membuat depresi. Di negara empat musim, ada depresi yang disebut SAD, Seasonal Affective Disorder, alias depresi cuaca. 

Musim dingin yang penuh salju dan tanpa matahari membuat beberapa orang menderita SAD tiap tahunnya. Orang Indonesia emang mesi banyak bersyukur karena musin hujan cuman identik dengan gejala merindukan someone that we can’t have. 

Next.

(Tempat). Kota yang sibuk dan macet membuat otak jadi mudah tegang dan berujung pada gejala rentan stress. Yah, mungkin inilah penyebab mahasiswa dan abang angkot suka berantem demi selisih pembayaran sebesar 500 perak. Kita semua lelah dan lapar. 

Kabar baiknya, hidup di tengah alam, yang pada umumnya memiliki warna homogen,  membuat otak jadi lebih rileks. Warna biru, khususnya, dapat mentrigger otak untuk lebih santai.

(Epigenetik). Depresi bisa diturunkan lewat gen. Pola pengasuhan yang buruk juga bisa mengubah gen anak menjadi buruk. Kabar baiknya, epigenetik dapat berubah sesuai dengan pola hidup. Pola hidup yang baik, seperti rajin berolahraga dan pola makan yang sehat dapat membuat ekspresi gen anda berubah dan membuat versi terbaik dari diri anda.

So, pekerjaan menjadi orang tua memang gak ringan. Ada satu makhluk bernama anak di mana kesehatan jiwanya tergantung dari tindak-tanduk orang tua saat mengasuhnya. Jadi emang lebih enak menjomblo saja. Wkwkwk.

Buku ini fully recommended. Bahasanya asyik. Temanya penting karena ini menyangkut diri sebagai manusia. Dan banyak memberikan wawasan baru terkait psikologi dan depresi. Sekian, saya mau cuci piring dulu.



No comments:

Post a Comment

Labels