Menu

Bedah, Kupas, Cincang Novel The Silent Patient

The Silent Patient Alex Michaelides


Judul Buku : The Silent Patient
Penulis: Alex Michaelides
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: 2019
Jumlah Halaman: 400


Buku ini merupakan kisah dengan genre misteri, di mana kasus diawali oleh kematian tokoh suami yang jelas dibunuh oleh sang istri dengan menembakkan lima peluru tepat di wajahnya.

Ngeri ya?

Yup, perjalan kisah dalam buku ini sebenarnya nggak creepy creepy amat kok. Sudut pandang "aku" yang menjelaskan segala peristiwa di dalamnya merupakan dokter psikoterapis yang menangani sikap bungkam sang istri setelah membunuh suaminya dengan brutal.

Meski terkesan membosankan pada halaman awal, tetapi begitu plotnya menyentuh konflik utama, semua berjalan dengan cepat. Buku berhalaman empat ratus ini sama sekali gak terasa berat dan tetiba aja udah habis dengan ending yang juga cukup mencubit, karena tebakan saya salah total soal perkiraan pelaku yang sebenarnya.

So, berikut ini adalah sinopsisnya.

Sinopsis


Tokoh "aku" di dalam cerita ini adalah Theo Faber, seorang psikoterapis forensik yang memang sering menangani kasus penyimpangan perilaku dari pelaku kejahatan. 

Kasus Alicia sangat menarik minatnya dan membuatnya mengajukan permohonan pengunduran diri dari pekerjaan lamanya. Ia berusaha melakukan pendekatan terkait kasus Alicia yang masih penuh tanda tanya hingga sekarang. 

Kasus Alicia jelas adalah kasus pembunuhan. Ia ditemukan menembak suaminya dengan pakaian yang sudah penuh darah. Ia diadili tanpa adanya perlawanan sama sekali, karena ia sudah berhenti bicara sejak kasus itu terjadi. Satu-satunya petunjuk adalah lukisan Alicia yang dibuat tepat setelah ia membunuh suaminya. Yang sebenarnya bisa dibilang justru membuat masalah semakin tidak jelas.

Bedah Kupas Cincang per Bab

Secara general, buku ini dibagi menjadi tiga bagian, yang dibatasi dengan quotes seputar psikologis dari Sigmund Freud.

Bagian satu : "Dia yang mampu melihat dan mendengar pasti yakin, tak ada manusia yang sanggup berahasia. Bila bibirnya diam, jemarinya mengoceh, pengkhianatan menguap dari setiap porinya."

Bagian dua: "Emosi yang terpendam tidak akan pernah mati. Semua itu terkubur hidup-hidup, dan akan muncul kelak, dengan cara yang lebih buruk."

Bagian tiga: 
"Tak seharusnya kisah biasa kusebut keanehan. Kupikir itulah bahaya menyimpan buku harian. Kau lebih-lebihkan segalanya, kau mencari-cari, dan kau terus melenceng dari kebenaran."

"Sebenarnya jujur bukan sifatku, tapi kadang tanpa sengaja aku berkata benar."

Kisah dalam buku ini berputar di dalam dongeng Alcestis, di mana seorang istri yang setia dipaksa melakukan pengorbanan untuk menuju kematian menggantikan sang suami. Kampr*tnya adalah, setelah sang istri mati, ia kemudian diselamatkan oleh salah seorang dewa dan kembali menuju kehidupan.

Sayangnya, setelah kembali hidup, sang istri menjadi bisu. Ia tak pernah bicara lagi selamanya.

Tragedi. Drama khas kesukaan manusia, tepat seperti kehidupan itu sendiri.

Selain itu, nilai-nilai psikologis juga amat kentara. Sebagai seorang tokoh utama, peran dokter psikoterapis Theo sangatlah kental memengaruhi jalannya plot cerita. Pembaca disuapi dengan pelbagai teori seputar psikologis. Contohnya adalah bab 15 bagian dua, saat Theo sedang menginvestigasi Paul Rose, sepupu Alicia.

Tepat seperti quotes yang ada di awal bab, Theo ingin mengorek luka Alicia di masa lalu yang menyebabkan ia sanggup membunuh Gabriel, suaminya, dengan cara yang sadis.

“Seorang psikiater yang pernah bekerja selama tiga puluh tahun di dalam kasus pedofil, semua yang ia temui pernah dianiaya semasa kecil. Bukan berarti semua anak yang teraniaya akan menjadi seorang pdeofil. Tetapi, mustahil bagi orang yang tidak pernah dianiaya akan menjadi seorang pelaku pelecehan.”

“Bayi tak dapat membenci ibunya, jika ibunya tidak lebih dulu membenci si bayi.”

“Sewaktu masih bayi, kita adalah spons yang polos, lembaran yang bersih, dan hanya membutuhkan hal hal yang mendasar. Makan, buang hajat, mencintai, dan dicintai. Tapi timbul masalah tergantung dari situasi tempat kita lahir, dan rumah tempat kita tumbuh. Anak yang disiksa dan dianiaya takkan pernah mampu membalas dendam di dunia nyata, karena tak berdaya dan tak mampu untuk membela diri, tapi ia sanggup dan pasti memendam khayalan penuh dendam.”

Buku ini adalah salah satu novel misteri yang enak buat dinikmati, ringan, terjemahan yang bagus, gaya bercerita mengalir sehingga pembaca gak sadar sudah menuju akhir buku dengan cepat. Satu lagi sih yang cukup oke: plot twistnya.

Jadi, di setiap bab cerita ada selipan cerita dari penulis, entah itu tentang istri Theo, Kathy, atau tentang diari Alicia. Dan ternyata setelah melihat ending yang seperti itu, kita akan mengerti bahwa selipan kisah istri Theo merupakan masa lalu dan Theo terlibat seratus persen atas teror yang dirasakan Alicia selama hidupnya.

Bagian ending memang merupakan yang menarik, selain bagian pembukanya. Mungkin karena dua bagian ini, novel ini menjadi enak banget buat dibaca, meskipun kasusnya itu sendiri tidak terasa begitu spesial. 


Latar Lingkungan dan Kehidupan Alicia


Bagian pertengahan buku , cerita akan banyak membahas soal kehidupan Alicia, teman-teman, serta masa kecilnya. Layaknya pembahasan seorang psikolog, buku ini pastilah menyuguhkan masa kecil Alicia yang ternyata gak enak.

Ia dibenci ayahnya dan dianggap bersalah atas kematian ibunya. Kemudian, ia dirawat oleh bibinya yang sama sekali tidak menyenangkan. Perasaan seperti tidak dihargai, tidak disayangi seketika meluap ketika suaminya berselingkuh dan memutuskan untuk menyelamatkan nyawanya sendiri ketimbang nyawa Alicia. Well, bagian ini sih yang lumayan bagus.

Ketika Theo, menyandra pasangan suami istri, Alicia dan Gabriel, ia dengan penuh amarah menginterogasi perselingkuhan Kathy dengan Gabriel. Ujung-ujungnya ia menunjukkan amarah dengan memancing Gabriel untuk memilih satu nyawa untuk dibunuh malam itu, dan Gabriel memilih nyawa Alicia. Suami kampr*t!

Selain suami, teman Alicia pemilik galeri seni juga cukup oke buat dibahas. Ia memiliki kecintaan yang mendalam pada … bakat Alicia. Sepenuhnya ia tergantung kepadanya dan tak ingin memutuskan kontak. Bahkan, pada saat Alicia kembali melukis untuk pertama kalinya di rumah rehabilitasi, ia setengah mati penasaran ingin melihat lukisan itu, alih-alih Alicia sendiri.

Tokoh Max, kakak angkat Gabriel, gak gitu penting sih buat dibahas. Awalnya ia seolah punya peranan yang penting, tapi ternyata ia hanya mengidap sibling rivalry yang gak selesai dengan Gabriel. Sebagai anak angkat, tentunya ia punya banyak hasrat dan rasa iri pada Gabriel yang berstatus anak kandung. 

Kathy, istri Theo. Nah, ini  tokoh yang sebenarnya menjadi kunci pemicu dalam kasus ini. Sebagai tokoh penyembuh atas sakit jiwa yang diderita Theo karena kekerasan ayahnya, Kathy juga lah yang mendorongnya jatuh ke jurang. Nice! Suatu saat mungkin aku akan membuat karakter yang punya peran ganda macam Kathy ini.

Latar Tokoh di Rumah Rehabilitasi, The Groove


Tokoh yang paling mencolok dari The Groove adalah Christian dan Deomedes sebagai dokter ketua di sana. Tetapi, yang punya peran memikat adalah Christian sih buat saya.

Christia adalah teman dari Gabriel itu sendiri dan pernah mengobati Alicia secara ilegal. Tertulis di dalam buku diari Alicia, bahwasannya ia pernah mengonsumsi sejumlah obat dari Christian. 

Christia itu sendiri memiliki kepribadian yang cukup antagonis di dalam cerita. Ia sering mengonfrontasi Theo dan sialnya, dimanfaat dengan baik oleh Theo sebagai kambing hitam. Bagus juga sih untuk membuat karakter seperti ini, brengsek tetapi sebenarnya bukan pelaku utama.

Deomedes dan Indira adalah karakter pagar dari status sebagai seorang dokter psikoterapis. Kalau Yuri, hemm.. Yuri adalah perawat yang baik, walaupun kedekatannya dengan para pasien terbukti menyimpan suatu dosa, yakni penyelundupan obat. 

Sekian penjabaran kali ini. Menurut saya sih, semua tokoh yang dibuat memiliki peran yang cukup kuat. Plotnya juga oke, meski kasusnya itu sendiri tergolong biasa. Dongeng Alcestis cukup memikat untuk membuat pembaca merasa penasaran. 

Salam emak emak, semangat mencuci piring!





No comments:

Post a Comment

Labels