Menu

drama korea when the camellia blooms
Add caption

Judul: When The Camellia Blooms

Perdana tayang : September 2019

Artis pemeran : Gong Hyo Jin, Kang Ha Neul, Kim Ji Seuk

Stasiun televisi: KBS2, 20 episode

Bisa dibilang, drama ini adalah salah satu cerita yang terbaik di tahun 2019. Kompilasi dari pelbagai unsur, seperti cinta (yang ini mah unsur wajib di drakor), kasih sayang antar keluarga, sosialisasi di masyarakat kota pesisir, sampai unsur thrillernya diramu dengan oke banget nget serta pas di hati.

Buat aku, ending drama ini juga cukup mengejutkan karena biasanya selalu diwarnai dengan adegan dua sejoli yang bersatu. Akan tetapi di drama ini, malahan......eh, hampir aja saya spoiler. Untuk ending tonton sendiri aja lah ya. 

Sinopsis


Drama ini diawali dengan adegan penemuan mayat di sebuah danau. Lalu kemudian, kita akan disajikan beberapa fakta serta cerita terkait kausu pembunuhan berantai yang terjadi di  Ongsan, sebuah kota kecil di daerah pesisir pantai.

Sesungguhnya, kalau menonton episode satu dan dua, suasana thrillernya amat kental. Saya aja sempat merasa takut ke kamar mandi sendirian gegara nonton drama ini tengah malam.

Tokoh utama wanita di dalam drama ini  bernama Dongbaek (diperankan Gong Hyo Jin). Dia adalah seorang emak single parent yang memiliki satu anak kecil bernama Kim Pil Gu.

Gong Hyo Jin di sini merupakan warga pindahan dari Seoul ke Ongsan. Sebagai sebuah kota pesisir, penghasilan utama penduduknya adalah usaha kuliner kepiting rendam kecap asin. Dan layaknya sebuah kota kecil, tetangga di sana selalu saling peduli satu sama lain. Walaupun saking pedulinya, julidnya juga gak tertahankan.

Pada awal cerita, kita akan disuguhi kehidupan pahit Dongbaek dan anaknya di tengah hujatan masyarakat terhadap seorang single mother. 

Sebagai ibu tunggal yang cantik dan pemilik sebuah bar bernama Camellia,
keberadaan Gong Hyo Jin menjadi duri untuk emak-emak yang lain. Konflik dimulai ketika salah satu polisi Seoul asal Ongsan, dipindahtugaskan untuk kembali ke Ongsan karena sesatu hal.

Polisi bernama Hwang Yong Sik ini,  merupakan anak dari salah satu tetua yang juga pemilik restoran kepiting rendam. Seperti yang sudah dapat Anda duga, bahwa tokoh inilah yang akan kelak akan tergila-gila pada Dongbaek.

Tokoh Hwang Yong Sik ini memilki karakter yang super imut, dengan gaya  sok jago, yang justru bikin kita yang nonton jadi gemas dan pengen nampol. Apalagi logat kampungnya itu loh, uwaaak, bikin kharismanya makin menjadi-jadi. Mungkin kalau di Indonesia, dia itu ibarat mas mas Jawa medok yang berusaha banget terlihat modern dengan belajar logat gue elo. Seimut-imut itulah perwujudan karakter polisi yang satu ini.

Di sinilah, konflik perjuangan cinta antara Dongbaek dan Yong Sik dimulai. Pertentangan datang dari segala sisi, mulai dari anaknya Dongbaek, mantan pacar Dongbaek, sampai ibunya Yong Sik yang jelas tidak menginginkan calon menantu yang sudah memiliki anak.

Plot cerita di dalam drama ini terasa sangat menarik karena adanya konflik gado-gado antara kisah cinta yang lucu, pergulatan sosial, dan thriller yang sedikit seram di ending cerita.

Yang Saya Sukaaaa


Karakter Dongbaek digamabarkan sebagai soerang introvert yang selalu menutup diri. Padahal aslinya, ia adalah sosok yang pemberani dan bisa sangat mengesankan di momen momen terjepit.

Hanya saja, segala kesialan yang terjadi di dalam dirinya, mulai dari ditinggalkan ibunya sewaktu kecil, ditinggalkan pacarnya yang seorang atlet baseball saat hamil, telah membuat dirinya menjadi sosok yang rendah diri

Cuplikan perjuangan ia sebagai ibu tunggal dibuat sangat menyayat hati. Momen ketika barnya belum terlalu ramai dan ia tidak bisa memberi makan anaknya dengan cukup, momen di saat anaknya yang masih SD membela ibunya habis-habisan di depan para tetangga yang marah, berhasil membuat saya ikut meneteskan air mata.

Jadi emak-emak memang tidak mudah.

Selain soal itu, saya juga menyukai bagaimana cerita ini menyajikan kisah cinta yang tak biasa. Plot cerita cinta di drama korea terkesan setipe, tetapi itu gak berlaku di dalam drama ini.

Sosok Yong Sik yang menjadi micin di dalam drama ini berhasil membuat keseluruhan kisah begitu membekas buat saya. 

Part yang paling bikin saya makin tergila-gila tentu saja bagian thrillernya. Meski gak njelimet amat dan tokoh pembunuhnya memang gak disembunyikan sampai ending cerita, tetapi clue yang disebar di sepanjang episode, sukses membuat saya jadi merinding dan terus menanti-nanti kelanjutan kasus pembunuhan yang turut melibatkan Dongbaek.

Meskipun bagian plot misterinya terkesan lambat karena emang tema cerita drama ini lebih ke romantis komedi, tapi tetap terasa oke dan gak bikin kecewa. Bahkan endingnya juga oke pake banget. 

Latar Cerita


Tak bisa dipungkiri bahwa latar cerita di dalam drama ini juga punya peran yang cukup besar. Ongsan, sebagai kota kecil, digambarkan dengan sangat detail, baik dari segi sosialnya maupun gaya para tokohnya.

Sebagai kota pinggiran, baju yang dikenakan Dongbaek, level kecantikannya, terkesal murni dan natural ala gadis desa. Yang bikin saya geleng-geleng kepala adalah Gong Hyo Jin sebagai pemeran Dongbaek bisa banget memerankan berbagai karakter dengan mumpuni.

Waktu dulu di drama Master's Sun, ia benar-benar menjadi tokoh yang jelek dan awut-awutan. Sedangkan di dalam drama ini, ia juga berhasil memerankan tokoh dengan kecantikan alami. Kok dia bisa jadi dua karakter yang berbeda fisik gitu sih! Kekuatan make up Korea emang sudah gila!

So, drama ini recommended banget lah buat ditonton di kala anak lagi bobok cantik.

Sudah ah, saya mau masak nasi dulu dan cuci piring. Sekian. 
0

Review Novel Sili Suli Surya Mentari dan Rembulan


Judul : Surya, Mentari dan Rembulan
Penulis: Sili Suli
Penerbit: Arti Bumi Intaran
Tahun : 2019
Jumlah Halaman: 469


Buat saya buku berjudul Surya, Mentari, dan Rembulan, ini cukup berbeda dengan buku lain yang pernah saya baca sebelumnya. Buku ini merupakan fiksi yang kental dengan penjelasan soal adat istiadat di Tanah Toraja, Yogyakarta, dan keadaan sosial di Indonesia sekitar abad 19. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa adat istiadat Indonesia di bagian timur memiliki begitu banyak kekayaan yang masih belum digali. Semoga di masa mendatang banyak cerita fiksi yang dapat mengangkat topik yang berlatarkan adat Indonesia Timur seperti di buku ini.

Sinopsis


Buku ini diawali dengan narasi yang menceritakan adat istiadat suku Toraja. Berlatar di tahun 1800-an dimana saat itu Belanda sudah menjajah sebagian besar pulau Jawa tetapi belum sampai ke wilayah Pulau Sulawesi. 

Saat itu, daerah Toraja yang terkenal dengan budidaya kopi juga belum mengalami penjajahan. Namun, salah satu pengusaha asal Belanda memang sudah menunjukkan niatnya untuk memonopoli perdagangan kopi di Tanah Toraja.

Nah, di sinilah keunikan budaya Toraja yang dituliskan oleh Sili Suli. Ketika ada orang asing yang ingin masuk ke dalam komunitas Suku Toraja, mereka diharuskan untuk memetik buah tomendoyan di Gunung Napo. Suku Toraja percaya bahwa hanya orang tulus yang dapat melihat dan memetik buah tomendoyan.

Seperti yang sudah dapat diduga, pihak dari Belanda tersebut tidak dapat menemukan buah tomendoyan. Mereka serta merta kembali pada tetua adat untuk mengatakan bahwa syarat yang ditentukan itu mengada-ada. Tetua adat di sana kemudian menyuruh salah satu penduduk untuk memetik buah tomendoyan untuk membuktikan bahwa buah tersebut memang ada. 

Tanpa membutuhkan waktu yang banyak, buah tersebut dapat ditemukan dalam sekejap mata. Akhirnya, pihak Belanda tersebut memutuskan untuk kembali tanpa membawa hasil apa-apa.

Ada juga kisah dari Suku Toraja yang cukup unik yakni pertandingan adu kerbau antar warga. Pertandingan adu kerbau ini memiliki gengsi yang cukup tinggi, bahkan ada kejadian di mana kerbau yang menjadi andalan banyak orang seketika enggan melakukan pertandingan karena kena guna-guna. Setelah diselidiki hal ini terjadi karena adanya pertaruhan besar-besaran yang dilakukan salah satu tokoh bangsawan di Suku Toraja yakni Tangke Bunna.

Tetapi dibandingkan kisah yang lain, upacara adat penguburan jenazah ala suku Toraja masih menjadi yang paling menarik untuk dibahas. Di awal pembukaan buku ini dituliskan adanya peristiwa salah satu bangsawan di suku Toraja yang menginginkan adanya upacara penguburan jenazah dengan tumbal manusia. Padahal upacara seperti ini sudah dilarang oleh tetua adat yang lain sehingga menimbulkan konflik yang cukup runyam.

Narasi tentang adat ala suku Toraja memang cukup panjang diulas oleh penulis. Konflik yang menjadi fiksi di dalam buku ini baru dimulai ketika tokoh Mataallo diculik oleh Tangke Bunna, tokoh yang memiliki dendam terhadap salah satu tetua adat. Pasalnya, Mataallo kemudian dijual sebagai budak hingga berada di tangan Raden Boedijono, seorang saudagar batik di Pulau Jawa.

Pencarian Mataallo inilah yang menjadi sentral konflik di dalam buku ini. Tokoh bernama Surya, salah satu penduduk kampung Waka sekaligus merupakan sahabat dekat Mataallo di Tanah Toraja, memutuskan untuk mencarinya hingga ke tanah Jawa bersama dua sahabatnya.  Akhirnya, pencarian Surya dan kawan-kawan bukan hanya berada di sekitar Pulau Sulawesi, dan Jawa, tetapi juga sampai ke negeri yang sangat jauh yaitu Nepal.

Kisah petualangan Surya dan kawan-kawan. Perjalanan Surya ke Pulau Jawa dan Nepal merupakan sebuah petualangan yang lumayan seru. Banyak kejadian baru nan unik yang lumayan menggelitik. Misalnya saja, saat Surya dan kawan-kawan dari kampung Waka menggunakan transportasi kereta untuk pertama kalinya. Entah kenapa saya jadi mengingat diri sendiri ketika pertama kali ke Jakarta dan merasakan sensasi naik KRL yang juga untuk pertama kalinya. Baik di tahun 1800-an maupun abad 21, kemewahan naik kereta belum bisa merata.

Kisah Surya dan kawan-kawan saat melintasi Sungai Gangga juga cukup memorial buat saya. Di tempat ini, Surya dan timnya dari Pulau Jawa terkaget-kaget melihat banyaknya mayat yang mengapung. Saya menyukai bagian penjelasan soal budaya masyarakat India yang lebih memilih mengapungkan jenazah keluarganya di Sungai Gangga, karena kepercayaan yang menganggap bahwa sungai ini suci.

Seketika, pembahasan ini kemudian ditimpali dengan banyolan bahwa ikan yang mereka makan tadi pagi juga berasal dari sungai yang sama. Kemudian, salah satu anggota dari mereka muntah hebat sampai lemas.

Kisah percintaan. Judul di dalam buku ini adalah nama dari tiga tokoh yang mengalami cinta segitiga, yakni Surya, Mentari, dan Rembulan. Di bagian awal buku, penulis menuliskan beberapa cerita kisah tentang betapa dalamnya cinta di antara Surya dan Mentari di kampuang Waka, Toraja. 

Kisah antara Rembulan dan Surya dimulai ketika Surya dan kawan-kawannya sedang berada di Yogyakarta, tepatnya saat melakukan pencarian terhadap Mataallo. Namun menurut saya kisah percintaan yang menjadi judul pada buku ini tidaklah terlalu menarik. Surya digambarkan seperti tokoh Fahri pada film Ayat-Ayat Cinta 2, lelaki yang serba bisa dan menjadi satu-satunya tokoh dengan pesona luar biasa. 

Saya awalnya sempat berharap bahwa kisah cinta Surya akan berakhir dengan sesuatu yang mengejutkan. Tetapi, ternyata tidak. Saya rasa kisah percintaan di dalam buku ini hanya merupakan bumbu dan tidak begitu berpengaruh terhadap pesan utama yang ingin disampaikan oleh penulis.

Kelebihan dan Kekurangan Novel Ini


Hal yang saya sukai di dalam buku ini adalah deskripsi budaya yang begitu detail luar biasa. Penulis menunjukkan keseriusannya dalam menggarap novel ini dengan menuliskan narasi lintas budaya, mulai dari Toraja, Jawa, sampai ke Nepal. 

Selain itu, penulis juga dapat memberikan deskripsi yang jelas tentang perjalanan Surya dan kelompok Koh Langgeng ke Gunung Sagarmatha. Mulai dari rute perjalanan, lintas geografi, sampai soal budaya setempat yang begitu mendetail, seolah-olah penulis pernah melakukan perjalanan ini secara langsung. Mungkin saja memang penulis pernah melakukan perjalanan ini secara langsung. Saya tidak tahu.

Secara keseluruhan, buku mengingatkan akan adanya karma baik, pentingnya bersikap baik dan mengingat jasa baik orang lain pada kita, serta menjaga rasa hormat pada nilai-nilai budaya setempat. Buku ini juga serupa catatan sejarah yang merekam uniknya jejak budaya Toraja di zaman dahulu.

Yang saya kurang sukai dari novel ini adalah gaya bercerita yang masih terasa datar. Pencarian Mataallo, kisah cinta segitiga antara Surya, Mentari, dan rembulan, sampai perjalanan Surya ke Gunung Nepal, dituliskan penulis seperti sebuah jurnal. Tidak ada perasaan yang diaduk-aduk ataupun emosi yang ikut memuncak tatkala tokoh utama sedang mengalami sebuah masalah.

Narasi pembuka dalam buku ini juga lumayan membosankan. Saya membutuhkan banyak waktu hanya untuk menghabiskan lima puluh halaman pertama di buku ini. Padahal bagian pembuka adalah bagian terpenting dalam sebuah buku agar pembaca dapat meneruskan proses membaca sampai menemukan konflik utamanya dan akhirnya ikut terseret dalam arus sampai kisah berakhir. 

Tapi bagaimanapun, saya tetap menyukai buku ini karena memiliki pesan yang cukup menyentil. Buku yang isinya padat dengan deskripsi adat istiadat yang kental, rasa hormat kepada alam, sampai soal norma sosial, cukup berhasil membuat saya sebagai pembaca ingin menyelami Tanah Toraja lebih jauh lagi. 

Kalau dipikir-pikir, Indonesia memang punya segudang cerita lokal yang masih perlu dieksplorasi serta dieksploitasi secara besar-besaran. Agar nanti generasi anak-anak kita yang kelak menjadi dewasa dapat ikut menikmati betapa cantiknya diri kita sebagai Indonesia. 

Sekian review hari ini. Terima kasih saya ucapkan pada kak Sili Suli karena sudah memberikan kesempatan pada saya untuk mencicipi karya yang luar biasa ini.
0

Labels