Menu

One of Us is Lying

Judul buku: One of Us is Lying
Penulis: Karen M. Mcmanus
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: 2017
Jumlah halaman: 408

Awalnya, saya mengetahui judul buku ini dari salah satu kisah fiksi yang ditulis di Storial.co. Kemudian saya iseng mencarinya di app Ipusnas dan alhamdulillah ada, jadi bisa baca buku gratisan deh, hihi.

Meski ceritanya tidak memberikan suasana ngeri seperti karyanya Stephen King, tapi lika-liku pencarian faktanya cukup asyik untuk diikuti.

Tapi, jangan berharap banyak soal keseruan dan plot twist yang wah ala Agatha Christie atau Sherlock Holmes ya. Karena genre buku ini adalah misteri remaja macam Trio detektif atau Lima Sekawan, tapi dengan bungkus yang lebih modern tentunya. 

Secara keseluruhan tak ada tekanan psikis dari jalannya kasus, tak ada plot twist yang membuat jantung berdegup seperti meluncur dari roller coaster, namun ajaibnya buku ini tetap enak untuk dinikmati.

Sinopsis

Kisah ini diawali dengan adanya hukuman detensi pada lima murid yang tertangkap tangan membawa telepon genggam ke dalam kelas selama jam pelajaran sekolah masih berlangsung.

Mereka berlima mengerjakan detensi dalam satu ruangan yang sama dan mendadak ada kejadian kecelakaan besar di parkiran mobil. Saat semua perhatian tertuju pada kejadian itu, Simon, salah satu murid yang terkena detensi, meminum air putih dan seketika menggelepar kemudian meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Masalahnya, Simon adalah siswa yang menyebalkan, biang masalah, dan cukup tahu banyak rahasia para 'artis' sekolah yang dapat menghancurkan kehidupan mereka. Sehingga hampir semua siswa di sekolah Bayview High mempunyai motif untuk melakukan tindak kejahatan tersebut.

Siapakah pelaku sebenarnya, ke-empat rekan detensi Simon saat itu juga memiliki alasan yang kuat untuk menyingkirkannya karena mereka semua, Bronwyn, Cooper, Addy, dan Nate memiliki rahasia tergelap masing-masing, yang sangat mungkin sudah diketahui oleh Simon.

Profil Singkat Para Tersangka

Sebenarnya, Simon adalah siswa yang luar biasa. Mungkin karena adanya hasrat untuk jadi terkenal, ia membuat aplikasi gosip macam Lambe Turah, untuk menghancurkan hidup teman-temannya di sekolah.

Tahu sendiri kan ya bagaimana kehidupan anak SMA di Amerika? Ada begitu banyak tuntutan untuk terlihat sempurna, populer, dan tentu saja jika anda tidak mendapat bagian dari itu maka kalian akan dapat bagian sisanya yaitu jadi bahan bully-an alias perundungan. Nah, tampaknya tokoh Simon dalam buku ini cukup antagonis, ia mengambil kepopuleran dengan menginjak kepala teman-temannya yang lain.

Hehe, sebenarnya saya tidak sepenuhnya tahu apakah gambaran mengenai kerasnya kehidupan SMA di Amerika ini benar atau tidak. Tapi film 17 again dan Before I fall juga menggambarkan hal yang sama: tuntutan untuk jadi populer serta maraknya praktek pembulian di antara mereka.

Singkat cerita, ke-empat rekan detensi itu memiliki popularitas yang tinggi. Bronwyn, siswi yang memiliki nilai sempurna, Addy, siswi paling cantik dan putri homecoming party, Cooper, atlet baseball yang sedang diincar banyak klub, dan Nate bocah nakal pengedar narkoba. Masing masing dari mereka mereka menyimpan rahasia yang jika diketahui Simon maka akan menghancurkan kenyamanan mereka sebagai artis-artis sekolah. Nah loh, menurut kamu siapa pelakunya?

Jalannya Penyelidikan

Proses jalannya penyelidikan berjalan cukup alot karena semua orang terlihat punya motif yang kuat untuk melakukannya. Ke-empat rekan sesama detensi itu harus bolak balik menjalani interogasi karena merekalah yang dianggap sebagai tersangka utamanya.

Proses penyelidikan yang begitu berat pelan-pelan membuat mereka saling membuka diri satu sama lain. Mereka berempat semakin dekat seiring jalannya plot cerita ini. Endingnya... eh saya gak mau spoiler lah. Baca sendiri ya di Ipusnas.

***

Hal yang lumayan saya sukai dari buku ini ialah kalimat teror yang diduga datang dari si pelaku pembunuhan : Pembunuhan akan lebih mudah dilakukan jika korban adalah tokoh yang punya banyak musuh. Sehingga pihak berwajib pasti akan dipusingkan oleh banyaknya tersangka. 

Meski saya sudah mengatakan dari awal bahwa kasus dalam buku ini tergolong sederhana, tapi poin kalimat di atas menjadikan misteri di buku ini jadi berasa lebih pedas. Kita akan sibuk menduga siapa teman-teman Simon yang cukup psikopat untuk melakukan pembunuhan ini. 

Hal yang kurang saya sukai ialah plot cerita yang kadang terlalu lambat. Saya sempat sedikit merasa bosan ketika berada di tengah jalan. 

Sekian, selamat membaca mak emak.
2

inikpop.com

Gegara pemainnya Lee Jong Suk, saya sudah keburu berekspektasi bahwa film ini akan sama luar biasanya dengan drama sebelumnya, While You're Sleeping atau W. Tapi, drama ini sedikit mengecewakan buat saya karena gejolak konfliknya dan kisah cintanya yang agak biasa.

Mungkin kekecewaan ini karena genre drama ini bukan action seperti yang lain. Satu satunya yang saya suka dari kisah ini adalah konflik di dalam perusahaan penerbitan. Huhu, ternyata kerja di perusahaan penerbitan punya kepahitan tersendiri yang menarik untuk diketahui.

Sinopsis

Kang Dan-Yi, seorang janda sekaligus seorang ibu yang sedang berada di titik terbawah kehidupannya. Dalam keadaaan yang baru bercerai, tak bekerja, dan bahkan tak punya rumah, ia berusaha mencari pekerjaan dan menyelinap ke rumah 'ade ketemu gede'-nya, Cha Eun Ho.

Konfliknya dimulai ketika Kan Dan-Yi berusaha untuk mendapatkan pekerjaan setelah Hiatus selama 7 tahun. Saking susahnya mendapatkan pekerjaan, akhirnya ia memutuskan untuk tidak menuliskan riwayat pendidikannya di bangku kuliah agar diterima sebagai staf pembantu umum di sebuah penerbitan Gyeoroo, perusahaan penerbitan di aman Cha Eun Jo bekerja sebagai kepala editor.

Kan Dan-Yi sadar bahwa dirinya sudah tertinggal sangat jauh dari dunia penerbitan yang sangat disukainya. Ia kembali bangkit dengan membaca begitu banyak buku selama bekerja di sana. Walaupun ia hanya berstatus sebagai staf pembantu umum, ia mempelajari kembali bidang copy writing, yakni bidang ilmu pemasaran.

Di tengah gemelut konflik soal pekerjaan, Kang Dan-Yi juga dibuat bingung dengan tingkah Cha Eun Ho yang semakin manis kepadanya. Entah ia tak menyukai atau memang memilih untuk tidak mengakui perasaannya yang sebenarnya pada sang Ade ketemu gede, tonton sendiri yak akhir ceritanya.

Penerbitan

Ini dia konflik yang sesungguhnya paling saya sukai dari drama ini. Pekerjaan editor ternyata sangat berat ya mak-emak. Merekalah pihak yang memastikan bahwa buku yang mereka garap bersama penulis akan dicetak dengan sempurna, nyaman untuk dibaca dan tanpa salah ketik. Ada potongan adegan di mana biografi penulis ditulis dengan tidak lengkap. Ini berakibat fatal, karena penulisnya marah sedangkan buku sudah dicetak 5000 ekslampar.

Ada potongan adegan pula bahwa semua buku yang tak laku akan dikembalikan dari toko buku kepada penerbit. Dan penerbit inilah yang akan menanggung semua kerugiannya. Dua truk buku yang tak laku tersebut jadi bahan daur ulang dan dibayar dengan nominal yang bahkan hanya cukup untuk membeli 3 buku baru. Huhu, saya jadi ikutan sedih di sini.

Apalagi musuh utama penerbitan ialah pembajakan buku. Alur proses dari penulis, editor, layouter, design cover, sampai proses percetakan dan sampai di tangan pembaca, tentulah memakan biaya yang lumayan. Apalagi dolar lagi naik ni mak emak, jadi harga buku yang pake kertas ikutan naik. 

Hiks, jadilah harga buku jaman sekarang bisa dibandrol dengan harga yang makin ngeriiiik. Dan harga buku bajakan menawarkan solusi murah meriah untuk membaca karya yang isinya sama persis. Tapi ini sama saja seperti tindakan pencurian dari penulisnya.

Jadi, buat emak emak yang limit budget macam saya, bisa menggunakan Ipusnas sebagai alternatif ruang baca gratis. Ada sekitar 40.000 judul dengan 600.000 eksemplar ebook yang bisa dinikmati gratis di hp. Enak banget kan?

Kerja Keras dan Kerja Cerdas

Kan Dan-Yi sebagai karakter utama mempunyai karakter yang pantang menyerah dan selalu mengerahkan effort dalam tugas-tugas yang diberikan. Tak hanya itu, ia juga terus meriset serambi terus membaca untuk menambah referensi terkait dengan tugas yang ia emban dalam penerbitan.

Ini dia yang saya maksud. Kerja keras itu penting, tapi tentu harus dibarengi dengan ilmu dan strategi yang baik. Mencuci piring di dapur aja ada strateginya sendiri kan mak emak?

Perceraian = Kehampaan yang Menyiksa

Ini adalah kisah cinta sampingan di antara tokoh kolega kantor Penerbitan Gyeoroo. Pasangan suami-istri dalam kantor sedang mengalami perceraian, dan saya bisa merasakan bahwa itu adalah hal yang sangat berat untuk dilalui. 

Ada begitu banyak alasan yang bisa ditemukan untuk berpisah. Dan alasan 'lelah' seperti dalam drama ini, adalah alasan yang begitu menyakitkan untuk dipilih sebagai jalan perpisahan. Itu seperti membuang beban di dada dengan berlari ke kehampaan yang menyesakkan. Good point, saya sangat suka dengan plot cerita cinta sampingan yang ini.

***

Yang kurang dari drama ini ialah tokoh suami Kang Dan-Yi yang kurang cakep, hihi. Jadi rasanya gak masuk akal buat saya bahwa Kang Dan-Yi lebih memilih suaminya yang brengsek dan kalah ganteng ketimbang adek ketemu gede macam Lee Jong Suk. Harusnya tokoh suaminya diperankan Lee Min Ho dong!!!

Hahaha, tapi saya pun sebenarnya belum merampungkan drama ini. Saya baru menonton sampai episode 12 dan sejauh ini saya cukup kecewa dengan jalan cerita utamanya, hehe. 

Tapi, saya tetap merekomendasikan untuk menonton, karena ada banyak cerita sampingan yang justru terasa berbobot dan menarik, seperti pergulatan perusahaan penerbitan dan kisah perceraian pasutri yang sudah saya tulis di atas. Selamat menonton.
3


Judul Buku: Sirkus Pohon
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2017
Jumlah Halaman: 410

Dear mak-emak

Sebenarnya saya rasa malas untuk mengulas bukunya Andrea Hirata. Huhu, habisnya tulisan pakcik dari Belitung ini udah kelewat oke, membuat saya malas untuk menuliskan review yang isinya bakalan cuman pujian semua.

Saya pernah baca jokes tentang hal ini pada artikel di Mojok.co. Kata artikel itu, saking terkenalnya nama Andrea Hirata, semua buku-bukunya memajang nama beliau dengan huruf yang lebih besar ketimbang judul bukunya. Sampai-sampai ia sering salah menduga bahwa Andrea Hirata adalah judul buku, bukan nama penulisnya, heuheu.

Sinopsis

Khas Andrea Hirata, ini adalah kisah kehidupan seorang anak melayu yang lekat dengan kemiskinan, kebodohan, namun penuh dengan kemauan untuk berjuang. Seperti biasa pula, Andrea menceritakan kisah sederhana ini dalam balutan humor lugas, khas orang sumatera.

Sobri alias Hob adalah pria pengangguran yang masih tinggal di rumah orang tuanya. Karena pernah berkawan dengan mafia kampung, namanya menjadi buruk dan imbasnya ia hanya bisa menjadu kuli serabutan di pasar.

DI tengah masa galaunya itu, ia malahan jatuh cinta pada sosok wanita penjaga toko, Dinda namanya. Lewat tokoh Dinda inilah, akhirnya Hob bekerja keras mencari pekerjaan tetap, yaitu menjadi Badut Sirkus. Ketika semua sudah tampak membaik, Hob sudah punya tabungan dan bahkan rumah sendiri, musibah datang pada tokoh Dinda secara mendadak.

Kisah ini tidak hanya menceritakan kisah cinta Hob dan Dinda. Ada cerita sampingan yang juga menceritakan soal penantian panjang. Sepasang anak kecil, Tara dan Tegar, bertemu di taman bermain pengadilan agama, ketika mereka sama-sama menemani orang tua mereka menjalani persidangan cerai. Kisah pertemuan yang manis membuat mereka saling jatuh cinta, saling mencari dan ketika hampir putus asa, takdir mempertemukan mereka kembali di taman bermain itu. Aiiih hopeless helpless romantic.


Rasa Lugas Khas Sumatera

Ketika membaca bukunya pakcik Andrea Hirata, saya kerap disergap perasaaan yang campur aduk. Tawa, haru, tertawa sambil terharu. Ada banyak sentuhan yang pakcik lakukan lewat interaksi keluarga. Kasih sayang orang tua tidak pernah lupa ia bubuhkan dalam semua buku-bukunya.

Saya sangat suka denga nilai-nilai seperti ini. Rasanya seperti teguaran pada kita untuk terus mengingat bahwa hanya keluargalah, manusia-manusia yang dapat tulus mencintai dan tak pernah berhenti peduli.

Ketika Hob masuk penjara karena berulah, ayahnya si penjual minuman asongan datang dengan baju dan muka yang lelah ke kantor polisi. Ia menunggu Hob dalam diam di luar karena terlalu takut untuk masuk. Hob merasa sangat bersalah karena sudah menyusahkan seorang ayah yang tak pernah berhenti peduli pada dirinya. Huhu, saya meneteskan air mata di bagian yang ini.

Cinta yang ditunjukkan Hob pada Dinda juga merupakan bentuk cinta yang sederhana namun sangat mengena. Seperti quote yang sering mucul dalam buku ini,

Cinta selalu memihak mereka yang menunggu.

Sirkus yang juga menjadi pusara konflik dalam buku ini pun, dibahas dalam berbagai sudut pandang. Mulai dari sejarahnya, latar musik, sampai pada orang gipsi yang menjadi pionir sirkus. Meski sirkus terus menghilang ditelan perubahan zaman, buku ini berhasil membangkitkan kerinduan saya pada gairah akan atraksi semacam tong setan. 

Perpolitikan Sengit Pemilihan Kepala Desa

Meski inti cerita Sirkus Pohon adalah seputar cinta seorang badut sirkus, tapi ada sindiran yang cukup nyelekit soal perpolitikan di Indonesia lewat cerita pemilihan kepala desa. 

Cerita tersebut menggambarkan betapa masyarakat sudah kelewat jenuh dengan janji-janji kampanye. Lucunya adalah yang memenangi pemilu kepala desa ini adalah pihak yang bahkan tak berusaha sedikit pun untuk ikut berkampanye. 

Intrik perpolitikan yang terkadang kelewat konyol juga ditampilkan seperti adanya kepercayaan pada pohon keramat. Kejadian ini sampai membuat Hob, sang pemilik pohon keramat tersebut, jadi rebutan banyak pihak. Ia pun pernah jadi kandidat dadakan kepala desa yang diajukan oleh masyarakat sekitar hanya karena pohon keramat.

Karakter Misterius si Mafia Kampung

Adalah tokoh penjahat di kampung itu bernama Taripol. Ia pernah bersahabat dengan Hob, ketika belum dijebloskan ke dalam penjara. Ada di satu titik, ketika Hob tak jua mendapat pekerjaan karena namanya yang buruk. Mendadak ia menyadari alasan mantan sahabatnya tak pernah berhenti mencuri: ia tak punya pilihan lain.

Ketika Taripol keluar dari penjara, Hob mengajaknya untuk bekerja di sirkus. Taripol senang luar biasa sampai-sampai ia selalu menunduk-nunduk ketika bertemu dengan ibu Tara, pemilik sirkus. Di sini saya juga belajar soal kesempatan kedua dapat menjadi persimpangan hidup yang baik buat orang-orang macam Taripol. Tokoh ini jugalah yang akan memegang plot twist yang manis di akhir cerita.

Sejujurnya, saya jatuh cinta pada sosok Taripol. Dari luar ia terlihat begitu picik, tapi sesungguhnya ia adalah pria sentimentil yang sangat cerdas. Pas banget lah kalau pakcik menampilkan Taripol sebagai sosok yang memegang peran besar di akhir cerita Sirkus Pohon ini.

Cerita ini terasa ringan dan nikmat untuk diikuti. Mutiara-mutiara cerita yang disampaikan pun terasa hangat: soal cinta yang tulus, soal persahabatan, sampai taktik terselubung soal gosip pohon keramat. Hueuheu, semoga suatu saat nanti saya dapat bertemu pakcik Andrea ya mak emak.

Selamat membaca.


0

Sarapan Pagi Penuh Dusta Puthut EA


Judul: Sarapan Pagi Penuh Dusta
Penulis : Puthut EA
Penerbit: Mojok

Tahun: 2017, cetakan ke-4
Jumlah Halaman: 140

Ini adalah karya cerpen pertama yang sangat saya nikmati. Sebelum membaca cerpen Puthut EA ini, saya pernah mencoba untuk membaca karya cerpennya Mbak Dewi Lestari, Recto Verso, dan saya menyadari bahwa kapasitas otak saya ternyata sangat limit. Heuheu.

Meski gaya bahasa dan ceritanya mudah dimengerti, cerpen om Puthut EA akan terasa seperti sebuah kotak pandora. Ia menyimpan banyak rahasia dan akan mengagetkan kita pada plot twist yang kadang membuat gemas,"Ini penulis kok kejam banget sih ngasih ending yang begini!" Tapi, nyatanya penulis begini yang saya sukaaaa.

Dalam beberapa cerpen, topik seperti perang dan kematian akan terasa sangat kental. Deskripsi suasana yang ditulis pun terasa sangat detail, secara tidak langsung ikut mempengaruhi saya untuk sedikit merasa jeri. Apalagi, saya merasa diharuskan untuk terus meraba alur cerita, sambil menyiapkan diri untuk menerima kisah akhir yang sering menjebak. Heuehu, saya tidak berani membaca buku ini sendiri.

Buku ini terdiri dari 15 cerita pendek, dan enam diantaranya pernah dimuat di beberapa media masa. Dari kelima belas cerita itu, saya paling menyukai yang berjudul Bayang-Bayang, Sisa Badai di Sepasang Mata, dan Sarapan Pagi Penuh Dusta.

Bayang-Bayang

Ini adalah kisah tentang perang. Sebuah daerah maju yang mengundang banyak rasa iri dan ketidaknyamanan daerah lain, sehingga yang terjadi kemudian ialah tindakan saling serang demi mempertahankan kedaulatan.

Saya suka sekali cara Puthut EA menuliskan suasana perang dalam kata-kata yang begitu gamblang namun tetap terasa romantis. Meski, tema sentralnya adalah peperangan, tokoh 'aku' justru terasa begitu sentimentil. Sebagai seorang panglima yang kalah tempur, ia terlihat begitu rapuh namun harus tetap terlihat tangguh di depan pasukannya.

Di akhir cerita, ia sedikit menyisipkan keluhan dirinya soal keengganan hatinya untuk ikut perang. Ia tuliskan juga mimpi-mimpinya tentang kehidupan sederhana bersama pasangan sembari merawat hewan ternak. Dan di dalam cerpen inilah ada plot twist yang cukup membuat gatal di akhir cerita.

Sisa Badai di Sepasang Mata

Ini adalah kisah seorang mahasiswa yang sedang melakukan penelitian di sebuah desa. Ia menemukan bahwa tetangga depan rumahnya adalah sosok yang misterius, tak pernah muncul dalam kehidupan masyarakat desa.

Dalam bahasa yang sangat detail, khas Puthut EA, tokoh utama merasa amat terganggu dengan mata yang sayu itu. Seolah meneror dirinya, bahkan sampai ke alam mimpi.

Tapi, pada suatu kesempatan si tokoh utama itu tak sengaja bertemu dengan si mata badai pada momen yang ia sendiri tak sadari. Itulah takdir yang akan membawa tokoh utama ke akhir cerita ini.

Sarapan Pagi Penuh Dusta

Ini adalah kisah sederhana yang begitu manis. Tentang rutinitas kebohongan di meja makan antara seorang anak perempuan dan ibunya. Hanya itu. Tapi lagi-lagi semua detail membuat saya sebagai pembaca bisa langsung membayangkan semua rutinitas manis mereka ketika sang anak sedang pulang mengunjungi ibunya di rumah.

Kegiatan rutin sebagai keluarga, seperti belanja bersama, kemudian berjalan pagi sembari memilih jajanan pasar untuk dibawa ke rumah bisa membuat saya merindukan untuk jadi sosok sebagai anak. Heuheu, sebagai emak-emak, saya pun kangen dengan masa ketika saya masih punya tali untuk bergantung, bukannya jadi tempat bergantung. #meloww

Yak, sekian review cerpen kali ini. Cukup susah juga membuat resensi cerita pendek. Ketika saya mau cerita yang agak panjang sedikit, itu artinya saya sudah menceritakan separuh perjalanan plot. Spoiler banget kan?

Jadinya saya berusaha banget hanya memberikan petunjuk kecil plus menceritakan bumbu micin yang saya suka dari cerpen tersebut. Btw, buku cerpen ini saya dapat dari kiriman Mojok.co gegara pertanyaan saya diterima di rubrik Curhat-nya. Pertanyaan sampah sebenarnya sih, karena memang sangat tak berfaedah, heuheu.

Bagaimanapun, terima kasih tim Mojok, buku ini luar biasa.  

5

Jonas Jonasson The 100 year old man Who Climbed out of the window and disappeared

Judul Buku: The 100 Year Old Man Who Climbed Out Of The Window and Disappeared
Penulis: Jonas Jonasson
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun : 2014
Jumlah Halaman: 508

Pertama mengetahui buku ini saya langsung penasaran karena mbak reviewnya, Fenty Effendy, mengatakan bahwa bukunya om Jonas Jonasson akan berasa seperti komedi hitam. Dan saya langsung capcus mencari buku ini di Ipusnas untuk mencicipi gaya tulisannya.

Setelah rampung membaca, ternyata rasanya cukup menyenangkan. Seperti mengunyah kepahitan tapi dalam rasa syukur dan kebahagiaan, ibaratnya seperti menjomblo akut tapi tetap hidup tentram. #eeeeaaaa

Dalam buku ini, Jonas Jonasson membagikan kisah soal tragedi kemanusiaan, seperti perang dan kematian dalam bahasa yang jenaka, sehingga saya sangat menikmati perjalanan cerita tanpa merasa harus larut dalam emosi yang seharusnya ada.

Meski dalam buku ini om Jonas tidak mengeksplorasi perasaan tokoh secara mendalam seperti novel pada umumnya, kisah yang ditulis tetaplah sangat menarik. Semua hal bisa ia jadikan semacam lelucon satir yang menyindir. Saya sukaaaaaaak.

Sinopsis

Ini adalah kisah petualangan seorang pria tua renta berumur 100 tahun, Allan Karlsson. Kejenuhannya pada suasana panti jompo, membuat ia memutuskan untuk meninggalkannya tepat di hari ulang tahun yang ke 100.

Dengan melompati jendela dan hilang tanpa kabar, ia menjadi pusat perhatian kota. Semua pihak kepolisian dan wartawan memburu berita soal pak tua yang hilang secara mendadak ini.

Allan Karlsson tua sebenarnya pergi ke terminal dan memulai petualangan barunya. Saya akui karakter Allan cukup serampangan, karena di terminal ini ia nekat mencuri koper yang dititipkan padanya oleh seorang pemuda yang sedang kebelet ingin ke WC.

Kisah berlanjut dengan semakin seru, di mana koper ini ternyata berisi uang sebanyak 50 juta krona (mata uang Swedia), hasil transaksi narkoba si pemuda terminal. Lalu, bagaimana kelanjutan kisah Allan vs pemuda terminal ini?

Konten Novel yang Sarat Sejarah

Kisah ini ditulis dengan alur maju-mundur. Tokoh Allan muda maupun yang tua  digambarkan sebagai seorang yang happy go lucky, seseorang yang begitu banyak memiliki keberuntungan sehingga hampir selalu berhasil lolos dari maut.

Sebenarnya novel ini berisi sindiran terhadap berbagai kondisi pemerintahan di berbagai negara. Kisah menyentil favorit saya ialah saat Allan sedang berkelana ke Rusia untuk berkerja sebagai konsultan ahli pembuat bom. Ternyata ia dan Stalin tak akur, akibatnya Allan berakhir di dalam sel untuk melakukan kerja paksa. Sedangkan Stalin sendiri berakhir dengan kematian karena penyakit stroke gegara ia melarang siapapun untuk masuk ke kamarnya.

Allan muda berkelana ke banyak negara, diantaranya Inggris, Amerika, Tiongkok, Iran, Rusia, bahkan juga ke Korea Utara. Diceritakan bahwa ia pun pernah menipu Kim Jong Il cilik yang kala itu digambarkan sebagai bocah yang sangat polos dan imut-imut. Hihi, saya pun ikut larut membayangkan bagaimana rupa Kim Jong Il , ayahanda dari Kim Jong Un, ketika masih umur lima tahun. 

Allan muda pun pernah mendarat di Indonesia loh, tepatnya di pulau Bali bersama Herbert, tokoh adik Einstein yang bodoh. Jangan bertanya soal apakah adik Einstein yang bodoh itu nyata atau tidak, tapi yang pasti akan ada banyak tokoh ajaib dalam buku ini yang akan membuat kita penasaran untuk kembali membaca buku sejarah dunia abad 20.

Awalnya saya senang Indonesia bisa ambil bagian, tapi ternyata itu artinya kita dapat jatah jadi bahan lelucon satir. Heuheu.

Om Jonas mengkritik soal pembantaian PKI yang menurutnya banyak salah sasaran. Sehingga lebih dari 300 ribu jiwa menjadi korban atas agenda penumpasan PKI kala itu, tapi tentu saja hal ini diceritakan dengan gaya yang kocak.

Karakter Ajaib si Tokoh Utama

Sebagai tokoh utama yang menjadi tokoh yang ikut menulis jalannya sejarah dunia (termasuk sumbangsihnya dalam pembuatan bom atom untuk Hiroshima dan Nagasaki), Alan Karlsson benar-benar unik. Ia sama sekali tak tertarik dengan dunia politik.

Ia adalah sosok yang tak pernah memusingkan segala hal secara berlebihan. Ia hanya bergerak dan mendobrak segala hal yang ingin ia rubah, salah satunya ya dengan melakukan tindakan nekat melompati jendela kamarnya.

Meskipun begitu, saya cukup kesal dengan tokoh Alan Karlsson, dan pada halaman 400 saya sudah setengah berharap bahwa tokoh ini akan kehilangan stok keberuntungannya dan mati saja. Toh, dia sudah berumur 100 tahun. Heuheu, tapi tokoh ini tak mati dan malahan me... yah, baca sendiri saja ya apa kejutan kecil di akhir buku ini.

Prolog buku ini yang menceritakan soal kakek-kakek melompati jendela sangatlah apik. Seakan Om Jason memberitahu untuk hiduplah secara bebas tanpa terpenjara dengan kotak yang kita buat sendiri. Ada kotak penjara bernama kekhawatiran, kotak rasa takut, kotak harga diri, dan yang paling konyol kotak bernama pandangan sosial terhadap diri kita. 

Rasanya, saya juga ingin memulai petualangan dengan melompati jendela, hihi. Selamat membaca dan selamat berpetualang. Rating 5/5.
0

Labels