Menu

Review Saman [Novel]: Ketika Pers Dibungkam, Maka Sastra yang Bicara

Saman

Ini dia Saman, karya salah satu legenda penulis wanita di Indonesia, Ayu Utami. Novel ini sebenarnya sudah diterbitkan sejak tahun 1998, sudah lawas banget yak. Itu berarti saya baru aja mau masuk SD, dan mbak Utami sudah menuliskan novel yang diterjemahkan ke delapan bahasa asing.

Blurb

Inti novel ini ialah persahabatan antara 4 wanita dengan berbagai kepribadian yang berbeda, Laila, Cok, Shakuntala, dan Yasmin. Mereka memiliki kisah cinta yang unik dan menarik. Dua dari mereka mencintai pemuda yang sama, yakni Saman.


Simple ya ceritanya?

BIG NO!.

Bagian pertama kita disuguhkan kisah cinta Laila, seorang fotografer yang memuja laki laki beristri, Sihar Situmorang, teknisi mesin yang bekerja di sebuah kilang minyak lepas pantai. Latar tempat seperti rig dan seismoclypse dideskripsikan dengan detail, termasuk kecelakaan yang terjadi di kala itu.

Kemudian di part dua kita akan diajak berkenalan dengan teman Laila yang lain, Shakuntala. Kalau Laila digambarkan sebagai karakter umum yang dimiliki wanita dengan budaya ketimuran, Shakuntala sebaliknya. Shintakula memiliki kepribadian yang unik dan sangat berkebalikan dari Laila.

Beranjak lagi ke bagian selanjutnya, kita akan mendapati Ayu Utami mulai membuka kedok si tokoh yang jadi judul di buku ini, Saman. Sebagai seorang pastor yang berubah jadi aktivis HAM, perjalanan Saman cukup nyeri untuk diikuti. Kita akan melihat betapa sebuah kekuasaan, terutama saat itu (orde baru),  benar-benar digunakan untuk menggilas  rakyatnya sendiri.

Fakta Sejarah

Sebagai novel pemenang sayembara fiksi Dewan Kesenian Jakarta tahun 1998, novel ini banyak merekam peristiwa saat orde baru masih berkuasa. Mulai dari kisah Saman sebagai pastor yang membela mati-matian hak warga kampung atas kompensasi tanah atau tentang kesewenang-wenangan sebuah perusahaan menutupi kesalahan pejabat atasnya sebagai kecelakaan kerja.

Selain itu, ada kisah menarik yang ditulis Ayu Utami tentang asal usul lahirnya karya Saman (bagian ini ia tulis di bagian halaman belakang buku). Pada saat itu, Ayu Utami adalah seorang wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen. Kemudian ia dipecat, karena ia termasuk pendiri komunitas tersebut. 

Ia menuliskan bahwa di zaman itu adalah masanya kebebasan pers sangat ditekan. Hanya karena mengkritik pemerintah yang dianggap biasa di jaman ini, kita dapat dipidana 10 tahun. Saat itulah, ia mulai menggarap Saman sebagai bentuk protes atas kebebasan pers yang dibungkam.

"Ketika pers dibungkam, maka sastra yang bicara."

Kisah Cinta dan Feminisme

Banyak ide feminisme yang dituliskan Ayu Utami dalam bukunya. Lewat tokoh Shakuntala, ide feminisme banyak diluncurkan sebagai ketidaksetujuannya atas nilai dan norma wanita budaya ketimuran. 

Novel ini memang tidak untuk segmen usia remaja. Banyak adegan seksual dan nilai-nilai yang mungkin masih susah dicerna anak SMP. Saya ingat jaman SMA, ketika pertama kali baca bukunya Djenar, saya agak syok dan berkomentar ,"Buku brengs*k macam apa ini."Ketika sudah menikah dan sadar bahwa hubungan seksual ternyata kebutuhan dasar manusia seperti makan dan buang air besar, saya jadi bisa menikmati unsur intrinsik dari novel-novel seperti ini.

Tapi rasanya kok sayang banget ya, kenapa novel dengan latar sejarah yang menarik seperti ini harus selalu membawa ide feminisme sebagai perspektif yang 'benar' dan sering membuat perspketif bahwa budaya ketimuran sebagai pihak yang 'salah'. Menurut saya, tak ada yang salah dari norma yang tak melanggengkan budaya seks bebas ala barat. Walaupun tentu saja tulisan Ayu Utami sebagai kritik atas tertindasnya wanita di Indonesia gegara budaya patriarki yang kebablasan itu banyak benarnya.

Penuturan Ala Puzzle

Ini dia poin yang saya sukai dari buku ini. Gaya bercerita yang unik, di mana Ayu Utami menyajikan cerita seperti potongan puzzle. Pada awalnya ini membuat saya sedikit berpikir dan mencari di mana benang merahnya. Begitu ketemu, plot begitu mengalir sampai ke akhir cerita.

Oiya, saya menulis ini sambil dipenuhi dengan dengan rasa minder. Hehe, tentulah saya belum mumpuni untuk ikut mengomentari bacaan semacam ini. Dengan konten peristiwa yang jelas tak ringan dan gaya penuturan bahasa yang unik, rasanya saya masih ecek-ecek bangetlah untuk bisa mengerti unsur intrinsik lain yang berada di dalamnya.

So rating menurut saya 3.5/5. Bagaimanapun, buku ini tetaplah luar biasa, jadi selamat membaca.




No comments:

Post a Comment

Labels