Menu

Review Novel : Koin Terakhir, Fiksi yang Berbalut Fakta

Judul: Koin Terakhir
Pengarang: Yogie Nugraha
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: 2013
Jumlah Halaman: 304


Koin Terakhir

Sebagai penggemar novel misteri, saya sangat antusias sangat menemukan buku ini di aplikasi Ipusnas. Buku ini cukup spesial karena genre misteri termasuk langka di antara genre cinta yang menjamur di Indonesia. Padahal pasar pembaca misteri cukup besar loh. 

Blurb

Kisah ini diawali oleh perkenalan singkat tokoh Zen Wibowo, seorang mata-mata dari BIN yang hendak menikahi seorang dosen filsafat. Di tengah perasaanya yang sedang berbunga-bunga itu, mendadak muncul kasus yang mengharuskan ia berani bergulat dalam ketidakpastian. Dengan petunjuk yang begitu sedikit, ia harus mengambil resiko besar atas pencurian data rahasia milik pemerintah yang diketahui ternyata disimpan di dalam sebuah koin antik.

Misinya menjadi lebih sulit ketika pelaku pencurian mendadak meninggal karena serangan jantung. Dan apakah Zen dapat menuntaskan kasus ini dan menikah dengan wanita pujaan hatinya? Atau ia gagal dan berakhir dengan menjomblo sampai hari tua? Silakan baca lanjutannya di Ipusnas, hahaha.

Latar belakang

Inilah hal yang paling menarik dalam serial ini, dimana pusara konflik diambil dari peristiwa konferensi Jenewa pada tahun 1967. Indonesia duduk di sana sebagai pihak yang dieksploitasi dengan cara paling murah. Sumber daya alam Indonesia dibagi-bagi pada negara Amerika, Kanada, Jepang, dan Eropa. Sebenarnya saya juga kurang begitu tahu apa yang terjadi dalam konferensi tersebut, keterangan lengkap mengenai perihal ini bisa dilihat di penjelasan blognya Kwik Kian Gie ya.

Penulis juga menuliskan mengenai peristiwa ini di bab pendahuluan. Mungkin konferensi ini sedikit banyak mengganggu nurani penulis, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk menuliskan novel ini walau harus memakan waktu selama dua tahun.

Filsafat

Ini poin yang lumayan saya suka dari konten novel ini. Memang sih, filsafat dalam novel ini hanya sebagai selingan. Pembahasan singkat mengenai tema filsafat dibahas dengan gaya yang lumayan kontroversi, dan berhasil membuat saya membaca bagian ini berulang-ulang agar mudeng di otak yang udah lumayan lemot ini.

Perihal seperti poin positif dari pemikiran komunisme dan keboborokan kapitaslime ditulis lewat candaan dan diskusi dalam kelas filsafat. Lewat tokoh dosen filsafat inilah, penulis menumpahkan minatnya dalam bidang filsafat. 

Ada satu bagian yang masih saya ingat sampai sekarang yakni saat tunangan Zen sebagai dosen sedang membahas tentang alasan mengapa beras lebih mahal ketimbang mobil mewah. Sebagai kebutuhan primer, bukankah beras bisa dijual dengan harga sangat tinggi dan tetap laris? Yah, silakan baca kelanjutan diskusinya dalam buku ini.


Simpulan

Hem, bisa dibilang novel ini cukup menarik. Penulis mengangkat tema sejarah yang bisa memicu pembacanya untuk segera googling terkait konferensi Jenewa yang menjadi akar konfliknya. Cerita kisah cinta Zen dengan ibu dosen filsafat itu pun terbilang memikat, karena penulisnya akan banyak memberikan jendela baru berkenaan dengan bidang filsafat.

Namun, yang menjadi kontradiksi ialah saat kisah pencarian koin itu dimulai. Kok rasanya agak hambar ya? Bukan berarti tidak menarik sih, tapi saya justru lebih menyukai hal-hal sampingan dalam novel ini ketimbang alur utama ceritanya yakni pencarian koin tersebut.

Karena saya sangat menyukai ide tentang membawa konflik konferensi Jenewa sebagai konflik awal dan bab pembahasan filsafatya, maka rating buku ini 3/5. 

Selamat membaca.

1 comment:

Labels