Menu

Novel Kambing dan Hujan

Judul : Kambing dan Hujan
Pengarang : Mahfud Ikhwan
Penerbit/Tahun: Bentang Pustaka/2015
Jumlah Halaman: 374

Kambing dan Hujan adalah novel pemenang sayembara DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) tahun 2014. Dengan titel seperti itu, saya pikir novel ini akan menyajikan cerita yang sarat dengan diksi yang susah dan menjelimet. Tapi ternyata novel ini begitu lembut, namun tetap bergizi seperti gambar susu di sampul depannya.

Karya Mahfud Ikhwan ini cukup spesial di hati saya. Karena kisah cinta  beda aliran antara Nu (tokoh Fauzia) dan Muhammadiyah (tokoh Miftah) seperti ini agak mewakili perasaan saya yang juga mengalami hal serupa, haha.

Mas misua beberapa kali mengkritik cara saya beribadah dan saya pun sering mengungkapkan keluhan atas dirinya yang selalu menolak undangan tahlilan.

Blurb

Kisah Kambing dan Hujan menceritakan tentang kisah cinta tak sampai antara dua anak pentolan Kiai Muhammadiyah dan NU di desa Centong. Fauzia (anak dari Kiai NU) dan Miftah (anak Kiai Muhammadiyah) tak bisa dengan leluasa mengutarakan keinginannya untuk menikah, karena buruknya hubungan penganut dua aliran tersebut.

Kisah mereka akhirnya ikut membuka alasan dan asal-usul perselisihan tiada akhir antara Muhammadiyah dan Nu di sana. Saya sangat suka dengan ritme kisah ini yang sebenarnya sangat sederhana, tapi sisi kemanusiaannya sangat mengena.

Walaupun kisah cintanya lumayan manis dan sedikit romantis, tapi kisah Fauzia dan Miftah di dalam buku ini hanyalah bahan pelengkap. Ibarat acar di nasi goreng, di mana kita tetap bisa makan nasi goreng tanpa acar. Tapi tentu lebih enak makan nasi goreng yang ada acarnya. Kira-kira begitulah penggambaran tentang komposisi cerita cinta dalam buku ini.

Buku ini bergenre maju mundur, membawa kita kembali ke masa lalu, saat para calon kiainya masih muda dan masih menjadi sahabat baik.

Sisi Romantis yang Begitu Manis


Buat saya, buku ini termasuk sangat berani membuka tabir masalah sosial yang banyak terjadi di masyarakat. Tapi, Mahfud Ikhwan berhasil menuliskannya tanpa menyakiti atau menunjukkan keberpihakkan terhadap objek tulisannya.

Nyatanya, setiap konflik yang terjadi, kedua pihak yang bertikai selalu berperan dalam menyumbangkan kesalahan. Di sinilah keberpijakkan Mahfud Ikhwan dan menuliskan konflik antara Muhammadiyah dan NU di bukunya.

Tapi, cuplikan kisah yang sangat membekas pada diri saya ialah saat karakter ayah Fauzia membujuk anaknya yang sedang mogok makan. Adegan ini terasa hangat, bagaimana seorang ayah yang begitu ingin mengabulkan permintaan anaknya, tetapi ia tidak punya daya dan upaya untuk melakukannya.

Percakapan mendalam antara Fauzia dan ayahnya membuat saya terharu berkali-kali. Kelembutan seorang ayah dapat tersampaikan dengan jelas lewat bujukan manis saat meminta Fauzia untuk makan. Aaaaaak, saya meleleh Mak.

Isu Toleransi 


Dalam beberapa pekan terakhir, isu toleransi menjadi begitu panas. Masing-masing pihak mengklaim paling toleran, padahal sama seperti kisah di buku itu, semua pihak masing-masing mengantongi kecacatannya.

Nah, secara tak langsung, buku ini juga mengajari bagaimana sikap terbaik dalam menyikapi perbedaan tata cara beribadah. Semua konflik diramu dengan satu tujuan yang jelas, yakni tercapainya perdamaian tanpa perlu mempersalahkan aliran yang dipilih. Pada akhirnya, yah, kalau bicara akhir silakan dibaca sendiri ya buku ini, saya sudah spoiler terlalu banyak.

Jadi, buku ini bukan cuma bicara soal cinta, tapi  ia juga mengajari cara menyikapi sebuah perbedaan dengan cara yang manis.

Rating: 5/5
Very recommended.

5

Saman

Ini dia Saman, karya salah satu legenda penulis wanita di Indonesia, Ayu Utami. Novel ini sebenarnya sudah diterbitkan sejak tahun 1998, sudah lawas banget yak. Itu berarti saya baru aja mau masuk SD, dan mbak Utami sudah menuliskan novel yang diterjemahkan ke delapan bahasa asing.

Blurb

Inti novel ini ialah persahabatan antara 4 wanita dengan berbagai kepribadian yang berbeda, Laila, Cok, Shakuntala, dan Yasmin. Mereka memiliki kisah cinta yang unik dan menarik. Dua dari mereka mencintai pemuda yang sama, yakni Saman.


Simple ya ceritanya?

BIG NO!.

Bagian pertama kita disuguhkan kisah cinta Laila, seorang fotografer yang memuja laki laki beristri, Sihar Situmorang, teknisi mesin yang bekerja di sebuah kilang minyak lepas pantai. Latar tempat seperti rig dan seismoclypse dideskripsikan dengan detail, termasuk kecelakaan yang terjadi di kala itu.

Kemudian di part dua kita akan diajak berkenalan dengan teman Laila yang lain, Shakuntala. Kalau Laila digambarkan sebagai karakter umum yang dimiliki wanita dengan budaya ketimuran, Shakuntala sebaliknya. Shintakula memiliki kepribadian yang unik dan sangat berkebalikan dari Laila.

Beranjak lagi ke bagian selanjutnya, kita akan mendapati Ayu Utami mulai membuka kedok si tokoh yang jadi judul di buku ini, Saman. Sebagai seorang pastor yang berubah jadi aktivis HAM, perjalanan Saman cukup nyeri untuk diikuti. Kita akan melihat betapa sebuah kekuasaan, terutama saat itu (orde baru),  benar-benar digunakan untuk menggilas  rakyatnya sendiri.

Fakta Sejarah

Sebagai novel pemenang sayembara fiksi Dewan Kesenian Jakarta tahun 1998, novel ini banyak merekam peristiwa saat orde baru masih berkuasa. Mulai dari kisah Saman sebagai pastor yang membela mati-matian hak warga kampung atas kompensasi tanah atau tentang kesewenang-wenangan sebuah perusahaan menutupi kesalahan pejabat atasnya sebagai kecelakaan kerja.

Selain itu, ada kisah menarik yang ditulis Ayu Utami tentang asal usul lahirnya karya Saman (bagian ini ia tulis di bagian halaman belakang buku). Pada saat itu, Ayu Utami adalah seorang wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen. Kemudian ia dipecat, karena ia termasuk pendiri komunitas tersebut. 

Ia menuliskan bahwa di zaman itu adalah masanya kebebasan pers sangat ditekan. Hanya karena mengkritik pemerintah yang dianggap biasa di jaman ini, kita dapat dipidana 10 tahun. Saat itulah, ia mulai menggarap Saman sebagai bentuk protes atas kebebasan pers yang dibungkam.

"Ketika pers dibungkam, maka sastra yang bicara."

Kisah Cinta dan Feminisme

Banyak ide feminisme yang dituliskan Ayu Utami dalam bukunya. Lewat tokoh Shakuntala, ide feminisme banyak diluncurkan sebagai ketidaksetujuannya atas nilai dan norma wanita budaya ketimuran. 

Novel ini memang tidak untuk segmen usia remaja. Banyak adegan seksual dan nilai-nilai yang mungkin masih susah dicerna anak SMP. Saya ingat jaman SMA, ketika pertama kali baca bukunya Djenar, saya agak syok dan berkomentar ,"Buku brengs*k macam apa ini."Ketika sudah menikah dan sadar bahwa hubungan seksual ternyata kebutuhan dasar manusia seperti makan dan buang air besar, saya jadi bisa menikmati unsur intrinsik dari novel-novel seperti ini.

Tapi rasanya kok sayang banget ya, kenapa novel dengan latar sejarah yang menarik seperti ini harus selalu membawa ide feminisme sebagai perspektif yang 'benar' dan sering membuat perspketif bahwa budaya ketimuran sebagai pihak yang 'salah'. Menurut saya, tak ada yang salah dari norma yang tak melanggengkan budaya seks bebas ala barat. Walaupun tentu saja tulisan Ayu Utami sebagai kritik atas tertindasnya wanita di Indonesia gegara budaya patriarki yang kebablasan itu banyak benarnya.

Penuturan Ala Puzzle

Ini dia poin yang saya sukai dari buku ini. Gaya bercerita yang unik, di mana Ayu Utami menyajikan cerita seperti potongan puzzle. Pada awalnya ini membuat saya sedikit berpikir dan mencari di mana benang merahnya. Begitu ketemu, plot begitu mengalir sampai ke akhir cerita.

Oiya, saya menulis ini sambil dipenuhi dengan dengan rasa minder. Hehe, tentulah saya belum mumpuni untuk ikut mengomentari bacaan semacam ini. Dengan konten peristiwa yang jelas tak ringan dan gaya penuturan bahasa yang unik, rasanya saya masih ecek-ecek bangetlah untuk bisa mengerti unsur intrinsik lain yang berada di dalamnya.

So rating menurut saya 3.5/5. Bagaimanapun, buku ini tetaplah luar biasa, jadi selamat membaca.




0

Orang Orang Proyek

Judul: Orang Orang Proyek
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia
Tahun: 2015
Jumlah halaman: 256

Novel ini saya dapat dari rekomendasi grup emak-emak baca buku di Instagram. Walaupun tak terlalu tebal dan termasuk mudah untuk dipahami, tapi konten yang melatari buku ini termasuk serius.

Ahmad Tohari mengungkapkan contoh kasus korupsi pada proyek pembangunan infrastruktur yang teramat sering ditunggangi oleh partai politik jaman orde baru. Lewat kisah ini juga ia menuliskan keresahannya lewat tokoh Kabul yang sedang mengalami dilema antara mempertahankan idealisme atau memilih mengikuti arus realita dan menikmati kekayaan palsu.

Blurb

Tokoh utama novel ini adalah seorang insinyur muda bernama Kabul. Seorang pemuda gagah nan jomblo ini adalah kepala pelaksana proyek sebuah jembatan di sebuah desa.

Proyek jembatan yang didanai oleh hutang luar negeri ini harus menerima untuk diporoti dari berbagi pihak. Kepala proyek, atasan Kabul sekaligus senior di kampusnya dulu, sering meminta Kabul untuk melepaskan idealisme ala mahasiswa, dan mulai menikmati jalannya arus realitas. Itu berarti Kabul harus mau ikut berkalingkong tentang bahan baku yang bermutu rendah sampai patuh pada perintah kader partai yang ingin peresmian jembatan menjadi ajang kampanye.


Konfliknya terus meluber bahkan sampai pada warga desa yang ikut-ikutan merampok budget proyek. Mereka mulai mencuri bahan bangunan, seperti semen, kemudian dijual kepada penadah. Permintaan bantuan bahan bangunan unuk pembangunan masjid di desa tersebut juga menjadi kecamuk dalam hati Kabul. Di satu sisi ia ingin memberikan pekerjaan yang terbaik pada jembatan yang ia bangun, tapi si sisi lain, semupa pihak seperti bersengkongkol untuk ikut rebutan 'kue' proyek yang jumlahnya sudah sangat terbatas.

Orang-Orang Proyek tidak hanya berpusar pada kisah proyek jembatan. Ada juga kisah sampingan lewat tokoh Wati, salah satu bawahan Kabul di proyek, yang jatuh cinta setengah mati padanya. Penasaran gimana ending dari cerita ini? Gih, langsung capcus pinjam bukunya di Ipusnas.

Belajar tentang Kebijaksanaan Hidup

Ada satu tokoh yang lumayan jadi favorit saya yakni Pak Tarna. Keluguan dan kesederhaan hidup seperti terpancar jelas lewat dialognya bersama Kabul yang kala itu sedang dilanda stres karena banyaknya permintaan tak masuk akal dari atasannya. Pak Tarna ini sendiri adalah seorang pensiunan yang mengisi hari-harinya dengan memancing dan memainkan seruling. Tapi, ada kalanya ia terlihat begitu bijaksana, seolah karakternya seperti samudera yang dalam. Ah, saya suka lah sama beliau.


Cinta yang Dalam

Hehe, saya sebenarnya kurang suka dengan tokoh Wati. Menurut saya kisah Wati dan Kabul tidak terlalu manis (mungkin ini efek saya keseringan nonton drakor). Habisnya, tokoh Wati digamabarkan sebagai wanita yang mengejar Kabul yang sepertinya sudah jelas tidak menyukainya. Menurut saya sih kalau jelas tidak suka, mending segera ditinggalkan dan cari laki-laki lain yang lebih ganteng lagi!

Tapi, ya, cerita seperti Wati ini sangat realistis, tidak seperti kebanyakan drama Korea yang memang kontennya terlalu banyak micin, sehingga membuat kecanduan. Sedangkan definisi cinta di kehidupan nyata begitu sederhana tapi mengena, eeeaaa.

Kue Proyek


Ini sudah jadi rahasia umum bahwa dinas Pekerjaan Umum adalah bagian pemerintahan yang paling banyak diminati gegara banyak proyek yang bisa dinikmati remah remahnya. Bagaimana ya menyikapi hal seperti ini?Kalau dipikir, rasanya ini sudah jadi hal lumrah, tapi kalau gini terus kapan dong Indonesia naik level dari the energy of Asia jadi king of Asia? 

Hehe, korupsi memang selalu jadi kejahatan laknat yang nikmat. Siapa sih yang gak mau jadi kaya dan hidup mewah? Semoga nanti, siapapun yang terpilih jadi presiden bisa jadi sosok kejam buat menyikapi budaya korupsi di birokrasi. Yang setuju komen amin. #eeeaaa

Review kali ini saya tutup dengan jokes yang terdapat di dalam buku ini. Alkisah penghuni surga dan neraka mendapat proyek dari Tuhan utnuk membuat jembatan pembatas. Namun, penghuni neraka mampu menyelesaikan proyeknya lebih dahulu ketimbang penduduk surga, karena isinya penduduk neraka adalah orang-orang proyek.


Buat saya rating buku ini 3/5. Selamat membaca.



0

Because This is My First Life

Saya baru merampungkan lagi drama korea yang dirilis tahun 2017 silam, Because This is My First Life. Sebagai drama Korea yang bergenre chiklit, ceritanya cukup menarik loh. Saya juga agak tak menduga dapat ketagihan dengan drama yang kisahnya biasa-biasa saja seperti ini.  Mungkin pesona drama ini terletak pada karakter para tokoh utamanya yang unik semua.

Blurb

Ini adalah kisah seorang laki laki, Nam Se Hee yang melakukan kawin kontrak dengan perempuan yang menyewa kamar di apartemennya, Yoon Ji Ho. Awal pertemuan mereka pun dibuat sangat lucu. Di mana Yoon Ji Ho menyewa kamar di apartemennya Nam Se Hee, tapi ia tak tahu bahwa pemiliknya adalah laki laki. Mereka tak pernah bertemu selama beberapa hari dan hanya berhubungan lewat telepon genggam.

Singkat cerita, Nam Se Hee sangat membenci paksaan menikah dari ibunya. Dengan alasan itu, ia memutuskan untuk menikah kontrak saja dengan Yoon Ji Hoo. Yoon Ji Hoo pun berpikir bahwa itu ide yang bagus karena saat itu ia sedang sangat putus asa mencari tempat tinggal di Seoul. Sehingga, tawaran dari Nam Se Hee terasa begitu logis sekaligus solutif.

Tapi, konfliknya tentu tidak akan berakhir di situ pemirsah, huahaha. Perkembangan masalah sekaligus jadi perkembangan karakter para tokoh utama akan terasa begitu pelan tapi manis. So, silakan ditonton yak.

Kisah Meraih Mimpi yang Begitu Berliku

Salah satu yang menarik dalam drama ini ialah mimpi Yoon Ji Hoo untuk jadi seorang penulis. Ada satu titik di mana ia berasa sangat mentok, sampai ia berkata,"Aku bermimpi seperti sedang berjalan di sebuah terowongan panjang tak berujung."

Aih, seenggaknya saya jadi punya gambaran lah mengapa cita-cita yang tinggi bisa disebut mimpi, hahaha. Saya juga jadi sedikit sadar bahwasannya perasaan menikmati perjalanan haruslah ada dalam meniti kisah menuju cita-cita, betul?

Persahabatan Beda Karakter

Ini juga jadi cerita sampingan yang menarik, di mana kisah cinta kedua teman Yoon Ji Ho juga memiliki konfliknya masing-masing. Ho Rang, gadis ceria tapi agak bodoh bertemu dengan kisah di mana kekasihnya masih takut untuk menerima pernikahan. Sedangkan Woo Jin, gadis tomboi berkarakter kasar namun sebenarnya lembut, juga terbentur oleh kisah di mana ia menutup diri bahkan terhadap laki laki yang amat menyukainya.

Kisah Woo Jin sebenarnya mengandung pesan yang lumayan berat loh. Di mana perempuan yang bekerja memang kadang mendapat pelecehan verbal dari rekan laki-lakinya. Enaknya diapain ya laki-laki model begini? Kita serempet motor matic aja yuk mak emak!

Pernikahan Bukan Penghalang Mimpi

Ini juga jadi poin penting bagi saya dalam film ini. Ada scene di mana Ji Hoo diminta kembali menuliskan script drama. Ia ingin menolaknya tanpa harus mengungkapkan alasan sebenarnya, jadilah ia mengatakan bahwa dirinya sudah berhenti menulis karena menikah.

Sang CEO tersebut menjawab bahwa itu alasan yang konyol. Scene dilanjutkan dengan perenungan diri Ji Hoo tentang perkataan si CEO tersebut. Kadang pernikahan dapat jadi perisai atas sesuatu yang kita enggan kerjakan. Padahal, tak seharusnya pernikahan jadi batu penghalang atas sebuah hasrat dan mimpi.

Ruang 19, Ruang Pribadi dalam Sebuah Pernikahan

Ini dia poin juara yang begitu ditonjolkan dalam drama ini. Ada sebuah buku yang judulnya ialah Room 19. Ini adalah kisah di mana sebuah rumah tangga pun perlu memiliki ruang pribadi masing-masing. Ruang pribadi di sini maksudnya bukan dalam bentuk fisik yak.

Pernikahan memang kadang jadi pembatas atas diri sebagai individu. Mendadak tak lagi punya ruang kamar sendiri, mendadak barang jadi konsumsi publik, bahkan waktu pun kadang tak lagi bisa dinikmati sebagai pribadi yang sendiri.

Kelihatannya sepele ya? Tapi menurut saya ini adalah poin yang menarik dan penting untuk dibahas. Buat saya, waktu pribadi alias me time adalah waktu rehat yang harganya sangat muahal. Di situ, saya jadi bisa kembali menjadi Andini yang suka baca komik, bukan seorang ibu atau istri. Jadi, kadang saya membuat kesepakatan sama mas misua ketika weekend untuk menjaga bocil seharian dan saya berleha-leha sambil gelundungan baca komik Detektif Conan.

Yak, secara keseluruhan kisah drama ini memang berjalan lambat. Karena drama ini menitikberatkan pada pesan-pesan tak langsung lewat perenungan para tokoh utamanya. Banyak dialog yang menurut saya lumayan magis sebagai nasihat atas kehidupan. Saya suka drama ini, jadi ratingnya 4/5.
3


Dear mak emak di rumah, kali ini yang akan dibahas ialah novel karya tetangga saya, Honey Dee. Nama asli beliau adalah Hanny Dewanti dan berdomisili di Samarinda, makanya saya berani banget bilang saya adalah tetangganya walaupun beliau jelas tidak mengenali saya, hiks.

Blurb

Tokoh utama kisah ini adalah Rie dan Bree. Mereka adalah remaja tanggung yang sama-sama memiliki hasrat untuk bunuh diri. Keinginan inilah yang membuat mereka saling bertemu di atap sebuah apartemen. Dari pertemuan ini, persahabatan mereka dimulai.


Rie, gadis yang menderita penyakit kanker memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena sudah tak kuat lagi menahan sakit proses kemoterapi sedangkan Bree adalah laki laki yang sudah muak dengan segala problematika dalam hidupnya. Perkenalan mereka ternyata berujung pada kesepakatan melakukan bunuh diri bersama setelah selesai mewujudkan harapan terakhir yang diinginkan.

So, bagaimana kisah lanjutannya? Akankah mereka benar-benar akan bunuh diri bersama sesuai kesepakatan? Gih, segera pinjam aja bukunya di Ipusnas atau beli di toko buku terdekat.

Serial Remaja yang Hangat

Hal yang saya suka dari karya-karyanya Hanny Dewanti ialah beliau selalu menyembunyikan mutiara di balik kisah remaja yang ringan. Dengan konsep seperti ini, saya yakin para dedek-dedek emes yang memang lagi suka banget sama serial cinta juga dapat memetik suatu pelajaran hidup ketika membaca karyanya Mak Hanny ini.


Walaupun begitu, genre teenlit semacam ini sering dipandang rendah loh, istilahnya book shamming. Topik ini pernah dibahas di salah satu komunitas baca ibu-ibu. Intinya adalah tidak ada yang salah dari genre apapun sebuah buku, ini semua cuman soal selera.

Saya pernah membaca curhatan mak Hanny saat ia mendapat celaan soal tulisannya yang memang rata-rata bertemakan remaja dan cinta. Yah, sayang sekali kalau sampai ada hujatan semacam ini yang sampai pada seorang penulis. 

Apapun genrenya, menulis itu gak semudah ngupil yang cukup bermodalkan telunjuk aja. Ada riset dan begitu banyak hal yang perlu dikorbankan untuk melahirkan ide dalam kepala menjadi sebuah karya.

So, yuk belajar saling mengahargai.

Bunuh Diri

Beberapa serialnya Mak Honey Dee memang banyak yang isinya tentang bunuh diri. Di akhir buku ini akan ada sedikit cerita tentang kisah hidupnya saat berjuang melawan sakit tumor yang juga hampir membuatnya menyerah. Mungkin inilah yang membuat dirinya begitu sering mengangkat tema tentang bunuh diri.

"Harapan itu hanya milik orang yang hidup" 
Ini adalah salah satu quote yang ada dalamnya, sungguh nyess banget kan?

Hal yang paling berasa dalam buku ini ialah kisah pendewasaan si tokoh utama, terutama Rie, saat ia mulai bersedia melangkah lebih dalam ke komunitas kanker. Lah, ini termasuk spoiler ga ya?

Lewat kacamata Rie, kita akan belajar untuk terus merasakan nikmat bahkan di tengah badai. Pokonya saya suka bangetlah sama proses perkembangan karakter si tokoh Rie. Rating buku ini 3.5/5.

Selamat membaca.


0

Origin Dan Brown

Judul: Origin
Pengarang: Dan Brown
Penerbit: Mizan
Tahun Terbit: 2017
Jumlah Halaman: 461

Akhirnya saya berhasil merampungkan serial anyar Dan Brown, Origins. Agak butuh effort untuk menyelesaikan karyanya yang ini karena status emak-emak ternyata membuat waktu membaca saya menjadi sangat singkat, itupun sudah mengorbankan cucian piring yang menggunung everest (ngeles).

Blurb

Seperti biasa, novel ini diawali oleh kalimat: "Semua karya seni, arsitektur, lokasi, sains, dan organisasi keagamaan dalam novel ini adalah nyata".

Dari mana kita berasal? Ke mana kita akan pergi?

Pertanyaan inilah yang menjadi dasar dari konflik keleuruhan di Origin. Masih dengan tokoh utama profesor Langdon, kali ini petualangan beliau berada di Spanyol, dimana kerajaan di sana sedang mengalami krisis.

Seperti tema terdahulu yang selalu mengangkat isu kontroversial, Dan Brown kali ini mengusung ide tentang penemuan seorang ilmuwan ateis, Edmond Kirsch, yang mengklaim dapat menjawab dua pertanyaan paling fundamental tentang hakekat manusia di bumi.

Hebohlah seluruh peserta seminar ketika sang ilmuwan justru terbunuh saat detik detik menjelang ia mengumumkan presentasi penemuannya itu. Apakah ini konspirasi dari para pemuka agama?

Semua pihak hampir berpikir seperti itu, apalagi saat itu uskup yang menjadi penasihat kerajaan Spanyol mulai bersikap misterius dengan adanya rekam jejak telepon ancaman dari beliau kepada Edmonds Kirsch sebelum presentasi dimulai. Walau harus menggadaikan nyawa, Profesor Langdon dan calon ratu Spanyol, Ambra Vidal, memutuskan untuk berkelana mencari petunjuk untuk mengumumkan penemuan beliau.

Isu Agama vs Ilmu Pengetahuan

Yah, seperti yang sudah banyak dipaparkan Dan Brown di beberapa novelnya bahwa Eropa menggoreskan sejarah kelam pertikaian berdarah antara agama dan ilmu pengetahuan selama berabad-abad. Tokoh Edmonds Kirsch sebagai ilmuwan ateis yang terbunuh sangatlah epik sebagai penggambaran terulangnya sejarah ini, walaupun bukan itu sih yang sedang terjadi. Penasaran? Segera beli gih, soalnya di Ipusnas masih belum ada, hahaha.

Sebenarnya alasan Edmonds tumbuh menjadi ilmuwan yang membenci agama sangatlah bersifat pribadi, ini adalah sesuatu yang berhubungan dengan kematian ibunya. Edmonds juga digamabarkan sebagai sosok yang sangat misterius dengan melakukan beberapa tindakan yang melenceng dari kebiasaanya, misalnya menjadi donatur terbesar gereja Sagrada Familia.

Saya juga baru tahu bahwa ada banyak sekali aliran agama nasrani di Eropa sana. Kalau di Indoensia kan cuman dua ya yang terkenal, yakni Protestan dan Katolik. Dan Brown menuliskan beberapa aliran nasrani seperti Palmarian, yang terbentuk karena ketakutan atas tercemarnya agama mereka dengan kekuatan liberal yang semakin berkuasa.

Ada satu kalimat yang saya suka di sini, yakni ketika Edmonds Kirsch menyindir tentang betapa hebatnya ilmuwan muslim terdahulu. Hampir semua pondasi ilmu pengetahuan modern dibangun oleh cendikiawan muslim, meski sekarang mereka semua sedang tertidur lelap. 

Spanyol dan Antoni Gaudi

Ini dia salah satu ikon di kota Barcelona yang sering sekali muncul dalam petualangan Professor Langdon kali ini, Casa Mila. Selain itu, beberapa karya Antoni Gaudi lainnya juga menjadi sorotan dalam latar tempat dalam kisah ini. 

Gaya yang unik, yakni garis lengkung yang amat menyerupai garis alam juga dijelaskan dengan gamblang oleh penulisnya. Benar-benar sekalian promosi Spanyol sebagai tempat wisata yang nyeni banget. Yok nabung buat ke Spanyol!

Casa Mila
Ini adalah foto Casa Mila. Sumber gambar: www.lapedrera.com

Sains

Ini juga jadi poin bagus sebagai micin dalam buku ini. Saya jadi kembali mengingat-ingat teori pelajaran fisika jaman SMA tentang termodinakima, khusunya teori entropi. Di mana sebuah ombak di lautan tak mungkin dapat membuat pasir menjadi sebuah bentuk yang teratur dan bahwa dunia ini akan terus bergerak menuju ketidaktaraturan. Jadi, hampir mustahil bahwa manusia yang begitu rumit adalah sebuah kebetulan kosmik.

Nah, konsep inilah yang akan dipatahkan Edmonds Kirsch. So, makin penasaran apa sih penemuannya? Selain tentang hukum fisika yang bikin rambut rontok, ada juga kisah tentang kecerdasan buatan yang udah uwoooo banget, di mana ada sebuah program kecerdasan buatan yang hampir memenangi kompetisi menulis di Jepang. Hahaha, buat kalian yang passionnya menulis mending segera diganti gih. 

Rating: 5/5, saya suka endingnya, menggigit.

Selamat membaca.  
3

Drama Korea Goblin
pinterest.com

Beberapa hari terakhir ini saya menjadi jarang menulis karena sedang tergila gila dengan satu drama lawas tahun 2017 yaitu Goblin. Meski sudah dirilis tahun kemarin, saya baru berhasil  merampungkan tahun 2018 akhir, hiks. 

Butuh effort yang kuat untuk gak suuzon pada drama fantasi semacam ini. Karena jalan plot cerita drama begini memang sering mengecewakan. Tapi kali ini, cerita Goblin cukup luar biasa. Karakter Goblin, si tokoh utama, memiliki kesan yang kuat, plot awalnya pun tergolong cantik dan manis, sehingga walaupun endingnya gak epik (menurut saya), semua itu terbayarkan.

Blurb

Ini adalah kisah seorang jenderal perang bernama Kim Shin. Ia dibunuh oleh raja muda yang dilayaninya karena ada perasaan iri dan takut dari si raja muda ini terhadap dirinya. Setelah Kim Shin ditusuk pedang, mendadak ada suara dari langit yang memberikan anugerah padanya untuk hidup abadi sampai ia bisa menemukan seseorang yang bisa mencabut pedang yang menancap di dadanya. Nah, inilah peran Ji Eun Tak, si pengantin goblin yang bertugas untuk mencabut pedang tersebut dan memberikan kematian pada mas Goblin.

Persoalannya tidak semudah itu juga sih. Ada banyak kekusutan lainnya yang ikut mewarnai konflik. Mulai dari terungkapnya penasihat kerajaan yang memberi kisikan buruk terhadap raja muda sampai pada persengkongkolan antara dayang dan si penasihat untuk meracuni seluruh keluarga kerajaan.

Sountrack yang Sangat Menawan

Poin yang banyak berkontribusi dalam meningkatkan level keapikan drama ini adalah pilihan soundtrack yang kece badai. Hampir semua pilihan lagu yang jadi soundtracknya menduduki rangking atas selama  drama ini masih berlangsung.

Salah satu soundtrack yang paling sering diputar yakni Stay With Me yang melow, pas banget menemani adegan Goblin sebagai karakter yang sedang jatuh cinta namun tetap berpura pura jahat pada wanita yang jadi pengantinnya. Lagu My Eyes sebagai pembawa mood gembira pun berhasil banget menemani momen bahagia tokoh Goblin saat sedang bersama Ji Eun Tak.


Kisah Kasih Ala Drakor

Goblin dan Ji Eun Tak
pinterest.com

Haha, iniah bumbu utama di semua drama korea: cinta. Sebenarnya cerita cinta dalam drama Goblin tidak istimewa. Namun perpaduan konyol antara Ji Eun Tak sebagai tokoh remaja dan Goblin sebagai om-om konyol akan jadi micin yang kuat untuk membuat para penontonnya ketagihan.

Hampir separuh perjalanan, drama ini tidak menampilkan adegan romantis. Mungkin memang drama ini diperuntukkan untuk anak SMP ke atas. Adegan dewasanya dengan rapi disimpan di belakang, bersama kisah sedih yang harus dilalui karakternya untuk sampai di ending.

Saya cukup menyukai pertengkaran batin mas Goblin di awal episode saat ia sedang benar-benar bingung untuk memutuskan apakah akan menerima Ji Eun Tak ke dalam hidupnya atau tidak. Ia sadar sepenuhnya bahwa arti kehadiran Ji Eun Tak adalah pertanda ajal yang ia rindukan sudah dekat. Namun, ia juga tak bisa mungkir bahwa hasrat matinya mendadak pupus karena ia justru berharap hidup lebih lama. Memang begitula kehidupan, terkadang humornya suka tajam. #eeeaaaaa.

Karakter Goblin

Ini dia pesona utama dalam drama ini: karakter yang rumit pada diri tokoh Goblin. Saya rasa penulis film ini, Kim Eun Sook luar biasa jenius dalam meramu karakter goblin yang campur aduk.

Terlihat beberapa kali, tokoh Goblin terus menahan kata-kata dalam benaknya, dan selalu bersikap kalem dalam mengahadapi amarah khas pubertas anak remaja tokoh Ji Eun Tak. Ia juga beberapa kali beradegan bodoh tapi sangat manis saat cemburu. Yah, intinya ini film emang dibuat untuk kaum hawa agar terbuai dengan angan betapa nikmatnya punya pacar yang lebih dewasa, hahaha.

Efek Samping yang Buruk

Dalam beberapa hari saya pun terhipnotis dengan karakter mas Goblin ini. Sampai-sampai foto Gong Yoo (aktor pemeran Goblin) pernah terpasang jadi wallpaper di hape saya selama beberapa pekan.   

Setelah jadi fangirling Gong Yoo, saya baru tahu bahwa ia memang bintang papan atas di Korea Selatan. Filmnya banyak dan bahkan ada yang bekerja sama dengan rumah produksi Warner Bros, keren kan? Dan saya berhasil menemukan drama lawasnya saat ia masih berusia 30 tahun, masih manis dan kerutan di sekitar mata masih belum ada(saat memerankan goblin umurnya sekitar 39 tahun).

Rating drama ini: 4/5, hehe saya kurang suka sama endingnya. Selamat menonton. 





0

Judul: Koin Terakhir
Pengarang: Yogie Nugraha
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: 2013
Jumlah Halaman: 304


Koin Terakhir

Sebagai penggemar novel misteri, saya sangat antusias sangat menemukan buku ini di aplikasi Ipusnas. Buku ini cukup spesial karena genre misteri termasuk langka di antara genre cinta yang menjamur di Indonesia. Padahal pasar pembaca misteri cukup besar loh. 

Blurb

Kisah ini diawali oleh perkenalan singkat tokoh Zen Wibowo, seorang mata-mata dari BIN yang hendak menikahi seorang dosen filsafat. Di tengah perasaanya yang sedang berbunga-bunga itu, mendadak muncul kasus yang mengharuskan ia berani bergulat dalam ketidakpastian. Dengan petunjuk yang begitu sedikit, ia harus mengambil resiko besar atas pencurian data rahasia milik pemerintah yang diketahui ternyata disimpan di dalam sebuah koin antik.

Misinya menjadi lebih sulit ketika pelaku pencurian mendadak meninggal karena serangan jantung. Dan apakah Zen dapat menuntaskan kasus ini dan menikah dengan wanita pujaan hatinya? Atau ia gagal dan berakhir dengan menjomblo sampai hari tua? Silakan baca lanjutannya di Ipusnas, hahaha.

Latar belakang

Inilah hal yang paling menarik dalam serial ini, dimana pusara konflik diambil dari peristiwa konferensi Jenewa pada tahun 1967. Indonesia duduk di sana sebagai pihak yang dieksploitasi dengan cara paling murah. Sumber daya alam Indonesia dibagi-bagi pada negara Amerika, Kanada, Jepang, dan Eropa. Sebenarnya saya juga kurang begitu tahu apa yang terjadi dalam konferensi tersebut, keterangan lengkap mengenai perihal ini bisa dilihat di penjelasan blognya Kwik Kian Gie ya.

Penulis juga menuliskan mengenai peristiwa ini di bab pendahuluan. Mungkin konferensi ini sedikit banyak mengganggu nurani penulis, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk menuliskan novel ini walau harus memakan waktu selama dua tahun.

Filsafat

Ini poin yang lumayan saya suka dari konten novel ini. Memang sih, filsafat dalam novel ini hanya sebagai selingan. Pembahasan singkat mengenai tema filsafat dibahas dengan gaya yang lumayan kontroversi, dan berhasil membuat saya membaca bagian ini berulang-ulang agar mudeng di otak yang udah lumayan lemot ini.

Perihal seperti poin positif dari pemikiran komunisme dan keboborokan kapitaslime ditulis lewat candaan dan diskusi dalam kelas filsafat. Lewat tokoh dosen filsafat inilah, penulis menumpahkan minatnya dalam bidang filsafat. 

Ada satu bagian yang masih saya ingat sampai sekarang yakni saat tunangan Zen sebagai dosen sedang membahas tentang alasan mengapa beras lebih mahal ketimbang mobil mewah. Sebagai kebutuhan primer, bukankah beras bisa dijual dengan harga sangat tinggi dan tetap laris? Yah, silakan baca kelanjutan diskusinya dalam buku ini.


Simpulan

Hem, bisa dibilang novel ini cukup menarik. Penulis mengangkat tema sejarah yang bisa memicu pembacanya untuk segera googling terkait konferensi Jenewa yang menjadi akar konfliknya. Cerita kisah cinta Zen dengan ibu dosen filsafat itu pun terbilang memikat, karena penulisnya akan banyak memberikan jendela baru berkenaan dengan bidang filsafat.

Namun, yang menjadi kontradiksi ialah saat kisah pencarian koin itu dimulai. Kok rasanya agak hambar ya? Bukan berarti tidak menarik sih, tapi saya justru lebih menyukai hal-hal sampingan dalam novel ini ketimbang alur utama ceritanya yakni pencarian koin tersebut.

Karena saya sangat menyukai ide tentang membawa konflik konferensi Jenewa sebagai konflik awal dan bab pembahasan filsafatya, maka rating buku ini 3/5. 

Selamat membaca.
1

Labels