Menu

drama korea when the camellia blooms
Add caption

Judul: When The Camellia Blooms

Perdana tayang : September 2019

Artis pemeran : Gong Hyo Jin, Kang Ha Neul, Kim Ji Seuk

Stasiun televisi: KBS2, 20 episode

Bisa dibilang, drama ini adalah salah satu cerita yang terbaik di tahun 2019. Kompilasi dari pelbagai unsur, seperti cinta (yang ini mah unsur wajib di drakor), kasih sayang antar keluarga, sosialisasi di masyarakat kota pesisir, sampai unsur thrillernya diramu dengan oke banget nget serta pas di hati.

Buat aku, ending drama ini juga cukup mengejutkan karena biasanya selalu diwarnai dengan adegan dua sejoli yang bersatu. Akan tetapi di drama ini, malahan......eh, hampir aja saya spoiler. Untuk ending tonton sendiri aja lah ya. 

Sinopsis


Drama ini diawali dengan adegan penemuan mayat di sebuah danau. Lalu kemudian, kita akan disajikan beberapa fakta serta cerita terkait kausu pembunuhan berantai yang terjadi di  Ongsan, sebuah kota kecil di daerah pesisir pantai.

Sesungguhnya, kalau menonton episode satu dan dua, suasana thrillernya amat kental. Saya aja sempat merasa takut ke kamar mandi sendirian gegara nonton drama ini tengah malam.

Tokoh utama wanita di dalam drama ini  bernama Dongbaek (diperankan Gong Hyo Jin). Dia adalah seorang emak single parent yang memiliki satu anak kecil bernama Kim Pil Gu.

Gong Hyo Jin di sini merupakan warga pindahan dari Seoul ke Ongsan. Sebagai sebuah kota pesisir, penghasilan utama penduduknya adalah usaha kuliner kepiting rendam kecap asin. Dan layaknya sebuah kota kecil, tetangga di sana selalu saling peduli satu sama lain. Walaupun saking pedulinya, julidnya juga gak tertahankan.

Pada awal cerita, kita akan disuguhi kehidupan pahit Dongbaek dan anaknya di tengah hujatan masyarakat terhadap seorang single mother. 

Sebagai ibu tunggal yang cantik dan pemilik sebuah bar bernama Camellia,
keberadaan Gong Hyo Jin menjadi duri untuk emak-emak yang lain. Konflik dimulai ketika salah satu polisi Seoul asal Ongsan, dipindahtugaskan untuk kembali ke Ongsan karena sesatu hal.

Polisi bernama Hwang Yong Sik ini,  merupakan anak dari salah satu tetua yang juga pemilik restoran kepiting rendam. Seperti yang sudah dapat Anda duga, bahwa tokoh inilah yang akan kelak akan tergila-gila pada Dongbaek.

Tokoh Hwang Yong Sik ini memilki karakter yang super imut, dengan gaya  sok jago, yang justru bikin kita yang nonton jadi gemas dan pengen nampol. Apalagi logat kampungnya itu loh, uwaaak, bikin kharismanya makin menjadi-jadi. Mungkin kalau di Indonesia, dia itu ibarat mas mas Jawa medok yang berusaha banget terlihat modern dengan belajar logat gue elo. Seimut-imut itulah perwujudan karakter polisi yang satu ini.

Di sinilah, konflik perjuangan cinta antara Dongbaek dan Yong Sik dimulai. Pertentangan datang dari segala sisi, mulai dari anaknya Dongbaek, mantan pacar Dongbaek, sampai ibunya Yong Sik yang jelas tidak menginginkan calon menantu yang sudah memiliki anak.

Plot cerita di dalam drama ini terasa sangat menarik karena adanya konflik gado-gado antara kisah cinta yang lucu, pergulatan sosial, dan thriller yang sedikit seram di ending cerita.

Yang Saya Sukaaaa


Karakter Dongbaek digamabarkan sebagai soerang introvert yang selalu menutup diri. Padahal aslinya, ia adalah sosok yang pemberani dan bisa sangat mengesankan di momen momen terjepit.

Hanya saja, segala kesialan yang terjadi di dalam dirinya, mulai dari ditinggalkan ibunya sewaktu kecil, ditinggalkan pacarnya yang seorang atlet baseball saat hamil, telah membuat dirinya menjadi sosok yang rendah diri

Cuplikan perjuangan ia sebagai ibu tunggal dibuat sangat menyayat hati. Momen ketika barnya belum terlalu ramai dan ia tidak bisa memberi makan anaknya dengan cukup, momen di saat anaknya yang masih SD membela ibunya habis-habisan di depan para tetangga yang marah, berhasil membuat saya ikut meneteskan air mata.

Jadi emak-emak memang tidak mudah.

Selain soal itu, saya juga menyukai bagaimana cerita ini menyajikan kisah cinta yang tak biasa. Plot cerita cinta di drama korea terkesan setipe, tetapi itu gak berlaku di dalam drama ini.

Sosok Yong Sik yang menjadi micin di dalam drama ini berhasil membuat keseluruhan kisah begitu membekas buat saya. 

Part yang paling bikin saya makin tergila-gila tentu saja bagian thrillernya. Meski gak njelimet amat dan tokoh pembunuhnya memang gak disembunyikan sampai ending cerita, tetapi clue yang disebar di sepanjang episode, sukses membuat saya jadi merinding dan terus menanti-nanti kelanjutan kasus pembunuhan yang turut melibatkan Dongbaek.

Meskipun bagian plot misterinya terkesan lambat karena emang tema cerita drama ini lebih ke romantis komedi, tapi tetap terasa oke dan gak bikin kecewa. Bahkan endingnya juga oke pake banget. 

Latar Cerita


Tak bisa dipungkiri bahwa latar cerita di dalam drama ini juga punya peran yang cukup besar. Ongsan, sebagai kota kecil, digambarkan dengan sangat detail, baik dari segi sosialnya maupun gaya para tokohnya.

Sebagai kota pinggiran, baju yang dikenakan Dongbaek, level kecantikannya, terkesal murni dan natural ala gadis desa. Yang bikin saya geleng-geleng kepala adalah Gong Hyo Jin sebagai pemeran Dongbaek bisa banget memerankan berbagai karakter dengan mumpuni.

Waktu dulu di drama Master's Sun, ia benar-benar menjadi tokoh yang jelek dan awut-awutan. Sedangkan di dalam drama ini, ia juga berhasil memerankan tokoh dengan kecantikan alami. Kok dia bisa jadi dua karakter yang berbeda fisik gitu sih! Kekuatan make up Korea emang sudah gila!

So, drama ini recommended banget lah buat ditonton di kala anak lagi bobok cantik.

Sudah ah, saya mau masak nasi dulu dan cuci piring. Sekian. 
0

Review Novel Sili Suli Surya Mentari dan Rembulan


Judul : Surya, Mentari dan Rembulan
Penulis: Sili Suli
Penerbit: Arti Bumi Intaran
Tahun : 2019
Jumlah Halaman: 469


Buat saya buku berjudul Surya, Mentari, dan Rembulan, ini cukup berbeda dengan buku lain yang pernah saya baca sebelumnya. Buku ini merupakan fiksi yang kental dengan penjelasan soal adat istiadat di Tanah Toraja, Yogyakarta, dan keadaan sosial di Indonesia sekitar abad 19. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa adat istiadat Indonesia di bagian timur memiliki begitu banyak kekayaan yang masih belum digali. Semoga di masa mendatang banyak cerita fiksi yang dapat mengangkat topik yang berlatarkan adat Indonesia Timur seperti di buku ini.

Sinopsis


Buku ini diawali dengan narasi yang menceritakan adat istiadat suku Toraja. Berlatar di tahun 1800-an dimana saat itu Belanda sudah menjajah sebagian besar pulau Jawa tetapi belum sampai ke wilayah Pulau Sulawesi. 

Saat itu, daerah Toraja yang terkenal dengan budidaya kopi juga belum mengalami penjajahan. Namun, salah satu pengusaha asal Belanda memang sudah menunjukkan niatnya untuk memonopoli perdagangan kopi di Tanah Toraja.

Nah, di sinilah keunikan budaya Toraja yang dituliskan oleh Sili Suli. Ketika ada orang asing yang ingin masuk ke dalam komunitas Suku Toraja, mereka diharuskan untuk memetik buah tomendoyan di Gunung Napo. Suku Toraja percaya bahwa hanya orang tulus yang dapat melihat dan memetik buah tomendoyan.

Seperti yang sudah dapat diduga, pihak dari Belanda tersebut tidak dapat menemukan buah tomendoyan. Mereka serta merta kembali pada tetua adat untuk mengatakan bahwa syarat yang ditentukan itu mengada-ada. Tetua adat di sana kemudian menyuruh salah satu penduduk untuk memetik buah tomendoyan untuk membuktikan bahwa buah tersebut memang ada. 

Tanpa membutuhkan waktu yang banyak, buah tersebut dapat ditemukan dalam sekejap mata. Akhirnya, pihak Belanda tersebut memutuskan untuk kembali tanpa membawa hasil apa-apa.

Ada juga kisah dari Suku Toraja yang cukup unik yakni pertandingan adu kerbau antar warga. Pertandingan adu kerbau ini memiliki gengsi yang cukup tinggi, bahkan ada kejadian di mana kerbau yang menjadi andalan banyak orang seketika enggan melakukan pertandingan karena kena guna-guna. Setelah diselidiki hal ini terjadi karena adanya pertaruhan besar-besaran yang dilakukan salah satu tokoh bangsawan di Suku Toraja yakni Tangke Bunna.

Tetapi dibandingkan kisah yang lain, upacara adat penguburan jenazah ala suku Toraja masih menjadi yang paling menarik untuk dibahas. Di awal pembukaan buku ini dituliskan adanya peristiwa salah satu bangsawan di suku Toraja yang menginginkan adanya upacara penguburan jenazah dengan tumbal manusia. Padahal upacara seperti ini sudah dilarang oleh tetua adat yang lain sehingga menimbulkan konflik yang cukup runyam.

Narasi tentang adat ala suku Toraja memang cukup panjang diulas oleh penulis. Konflik yang menjadi fiksi di dalam buku ini baru dimulai ketika tokoh Mataallo diculik oleh Tangke Bunna, tokoh yang memiliki dendam terhadap salah satu tetua adat. Pasalnya, Mataallo kemudian dijual sebagai budak hingga berada di tangan Raden Boedijono, seorang saudagar batik di Pulau Jawa.

Pencarian Mataallo inilah yang menjadi sentral konflik di dalam buku ini. Tokoh bernama Surya, salah satu penduduk kampung Waka sekaligus merupakan sahabat dekat Mataallo di Tanah Toraja, memutuskan untuk mencarinya hingga ke tanah Jawa bersama dua sahabatnya.  Akhirnya, pencarian Surya dan kawan-kawan bukan hanya berada di sekitar Pulau Sulawesi, dan Jawa, tetapi juga sampai ke negeri yang sangat jauh yaitu Nepal.

Kisah petualangan Surya dan kawan-kawan. Perjalanan Surya ke Pulau Jawa dan Nepal merupakan sebuah petualangan yang lumayan seru. Banyak kejadian baru nan unik yang lumayan menggelitik. Misalnya saja, saat Surya dan kawan-kawan dari kampung Waka menggunakan transportasi kereta untuk pertama kalinya. Entah kenapa saya jadi mengingat diri sendiri ketika pertama kali ke Jakarta dan merasakan sensasi naik KRL yang juga untuk pertama kalinya. Baik di tahun 1800-an maupun abad 21, kemewahan naik kereta belum bisa merata.

Kisah Surya dan kawan-kawan saat melintasi Sungai Gangga juga cukup memorial buat saya. Di tempat ini, Surya dan timnya dari Pulau Jawa terkaget-kaget melihat banyaknya mayat yang mengapung. Saya menyukai bagian penjelasan soal budaya masyarakat India yang lebih memilih mengapungkan jenazah keluarganya di Sungai Gangga, karena kepercayaan yang menganggap bahwa sungai ini suci.

Seketika, pembahasan ini kemudian ditimpali dengan banyolan bahwa ikan yang mereka makan tadi pagi juga berasal dari sungai yang sama. Kemudian, salah satu anggota dari mereka muntah hebat sampai lemas.

Kisah percintaan. Judul di dalam buku ini adalah nama dari tiga tokoh yang mengalami cinta segitiga, yakni Surya, Mentari, dan Rembulan. Di bagian awal buku, penulis menuliskan beberapa cerita kisah tentang betapa dalamnya cinta di antara Surya dan Mentari di kampuang Waka, Toraja. 

Kisah antara Rembulan dan Surya dimulai ketika Surya dan kawan-kawannya sedang berada di Yogyakarta, tepatnya saat melakukan pencarian terhadap Mataallo. Namun menurut saya kisah percintaan yang menjadi judul pada buku ini tidaklah terlalu menarik. Surya digambarkan seperti tokoh Fahri pada film Ayat-Ayat Cinta 2, lelaki yang serba bisa dan menjadi satu-satunya tokoh dengan pesona luar biasa. 

Saya awalnya sempat berharap bahwa kisah cinta Surya akan berakhir dengan sesuatu yang mengejutkan. Tetapi, ternyata tidak. Saya rasa kisah percintaan di dalam buku ini hanya merupakan bumbu dan tidak begitu berpengaruh terhadap pesan utama yang ingin disampaikan oleh penulis.

Kelebihan dan Kekurangan Novel Ini


Hal yang saya sukai di dalam buku ini adalah deskripsi budaya yang begitu detail luar biasa. Penulis menunjukkan keseriusannya dalam menggarap novel ini dengan menuliskan narasi lintas budaya, mulai dari Toraja, Jawa, sampai ke Nepal. 

Selain itu, penulis juga dapat memberikan deskripsi yang jelas tentang perjalanan Surya dan kelompok Koh Langgeng ke Gunung Sagarmatha. Mulai dari rute perjalanan, lintas geografi, sampai soal budaya setempat yang begitu mendetail, seolah-olah penulis pernah melakukan perjalanan ini secara langsung. Mungkin saja memang penulis pernah melakukan perjalanan ini secara langsung. Saya tidak tahu.

Secara keseluruhan, buku mengingatkan akan adanya karma baik, pentingnya bersikap baik dan mengingat jasa baik orang lain pada kita, serta menjaga rasa hormat pada nilai-nilai budaya setempat. Buku ini juga serupa catatan sejarah yang merekam uniknya jejak budaya Toraja di zaman dahulu.

Yang saya kurang sukai dari novel ini adalah gaya bercerita yang masih terasa datar. Pencarian Mataallo, kisah cinta segitiga antara Surya, Mentari, dan rembulan, sampai perjalanan Surya ke Gunung Nepal, dituliskan penulis seperti sebuah jurnal. Tidak ada perasaan yang diaduk-aduk ataupun emosi yang ikut memuncak tatkala tokoh utama sedang mengalami sebuah masalah.

Narasi pembuka dalam buku ini juga lumayan membosankan. Saya membutuhkan banyak waktu hanya untuk menghabiskan lima puluh halaman pertama di buku ini. Padahal bagian pembuka adalah bagian terpenting dalam sebuah buku agar pembaca dapat meneruskan proses membaca sampai menemukan konflik utamanya dan akhirnya ikut terseret dalam arus sampai kisah berakhir. 

Tapi bagaimanapun, saya tetap menyukai buku ini karena memiliki pesan yang cukup menyentil. Buku yang isinya padat dengan deskripsi adat istiadat yang kental, rasa hormat kepada alam, sampai soal norma sosial, cukup berhasil membuat saya sebagai pembaca ingin menyelami Tanah Toraja lebih jauh lagi. 

Kalau dipikir-pikir, Indonesia memang punya segudang cerita lokal yang masih perlu dieksplorasi serta dieksploitasi secara besar-besaran. Agar nanti generasi anak-anak kita yang kelak menjadi dewasa dapat ikut menikmati betapa cantiknya diri kita sebagai Indonesia. 

Sekian review hari ini. Terima kasih saya ucapkan pada kak Sili Suli karena sudah memberikan kesempatan pada saya untuk mencicipi karya yang luar biasa ini.
0


Filosofi Teras Henry Manampiring

Judul: Filosofi Teras
Penulis : Henry Manampiring
Penerbit: Kompas
Tahun: 2019
Jumlah Halaman: 346

Buku ini cukup spesial buat saya. Membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, membuat saya bisa memandang sebuah kehidupan dengan definisi yang sedikit berbeda.

Tema utama filosofis stoisisme di dalam buku ini mengajarkan para pembacanya untuk bisa menikmati sebuah kehidupan dengan cara yang begitu mudah. Definisi tentang kesuksesan yang selama ini kita ketahui, ternyata adalah sebuah nalar yang sesat!

What? Sesat?

Sinopsis 


Well, buku ini terdiri dari dua belas bab yang menurut aku padat banget! Kontennya diulas tuntas dengan gaya bahasa yang santai ditambah dengan wawancara dengan orang terkait topik yang sedang dibahas. Uniknya, tokoh yang menjadi objek wawancara gak meululu seorang ahli psikologis atau seorang terapis. Tetapi, juga seorang tokoh influencer yang udah kebal sama cyberbullying. Keren kan?


Di awal bab, om Henry Manampiring mengajak pembacanya mendalami poin-poin ketakutan yang tersembunyi. Menurut survei yang dilakukan beliau, rata-rata manusia memang memiliki seabrek kekhawatiran dengan berbagai jenis. Ada yang khawatir soal uang, pendidikan, cinta, sampai soal polotik yang sedang terjadi di negeri ini.

Yah, setiap manusia yang bisa berpikir pastilah merasa khawatir Om! Saya awalnya berpikir begitu.

Akan tetapi, setelah melihat data survei tersebut, ternyata kita semua memang tidak hidup di masa kini, melainkan di dalam ruang ketakutan masing-masing. Sehingga, yang sudah jadi orang tua, tidak bisa menikmati momen lucu anak-anaknya yang masih kecil. Yang masih jomblo tidak bisa menikmati masa-masa kesendiriannya. Dan yang sudah menikah sekalipun, tidak bisa menikmati romansa cinta ala Harlequin.

Nyatanya, harapan serta keinginan yang tidak tersedia di masa kini merupakan racun yang merenggut kebahagiaan. Lalu, apakah kita dilarang bermimpi?

Bukan gitu juga sih my looove.

Filosofi Teras mengajarkan untuk bermimpi secara realistis. Ketimbang mengkhayalkan sesutau yang sifatnya abstrak, filosofi ini menawarkan sesuatu yang lebih utama yakni kemampuan untuk bertindak nyata.

Quotes yang oke banget menurut saya ada di halaman 19, "Berpikir positif dapat membahayakan kesehatan jiwa. Mereka yang berpikir realitas jauh lebih banyak mencapai tujuan ketimbang mereka yang menerapkan berpikir positif."

Jleb kan?

So, ketimbang berharap si dia akan terus menunggu, mending langsung lakukan tindakan yang nyata kan? #Upss.

Setelah membaca buku ini, saya jadi berpikir bahwasannya motivator itu racun, huhuhu. Rasanya, ketimbang baca buku motivasi, saya jauh lebih senang membaca buku seperti ini. Sebuah filsuf, yang mengajarkan cara menjalani hidup berlandaskan nalar yang benar.

Next!

Pada bab selanjutnya kita akan dibimbing om Henry Manampiring untuk mengenali apa itu nalar yang sesat berdasarkan contoh kasus sederhana yang beliau alami sendiri dan setiap hari yakni kemacetan.

Semua orang pasi merasa kesal saat sepulang kerja tapi harus bergerumul dengan kemacetan kota Jakarta. Nah, dulu penulis juga merasakan hal yang sama. Merasa kesal terus menerus, setiap hari, pada satu hal yang sama itu sangat melelahkan buat jiwa.

Om Manampiring mengenalkan dua hal pada pembacanya, yakni sesuatu yang dapat dikendalikan dan sesutau yang tidak dapat dikendalikan. Sesuatu yang dapat dikendalikan adalah semua hal yang ada di dalam diri, yakni rasa, pikiran, usaha. Sedangkan, sesuatu yang di luar kendali adalah isi kepala orang lain, kematian, bencana alam, termasuk kemacetan.

Merasa kesal dengan segala sesuatu yang ada di luar kendali diri adalah contoh nyata nalar yang sesat. Tidak ada yang akan berubah dari kemacetan sekalipun kita merasa kesal sampai ingin meledak. Sama saja dengan berharap bahwa si dia akan menyukai diri kita. Semua itu ada di luar kendali diri.

Yang ada di dalam kendali diri adalah berusahan bersikap tenang dan menggunakan waktu luang saat terjebak macet dengan melakukan hal yang menyenangan, misalnya membaca atau stalking mantan.

Yang bisa dilakulan adalah berusaha menjaga sikap sopan, mandi dengan sabun sampai wangi, agar si dia setidaknya bisa mengingat nama kita terlebih dahulu.

Next!

Pada bab selanjutnya Om Manampiring mengajarkan siasat saat nalar yang sesat sedang mengusai isi kepala. Metode ini disebut STAR, Stop Thinking Access and Respond.

Contoh simplenya adalah ketika sedang diputusin pacar tanpa sebab yang jelas. Kesel, kan? Lantas kita mungkin akan berpikir macam-macam, mulai dari kemungkinan ia berselingkuh sampai tentang karma karena dulu kita pernah melakukan hal yang sama.

Saat sedang begini, hal perlu dilakukan adalah berhenti. Kemudian mulai pikirkan dan nilai kejadian ini dengan kacamata yang objektif (teori sih gampang Om, tapi berpikir dalam kondisi mewek begini uwe mana bisa!).

Bagaimanapun pahitnya, semua kejadian yang pernah kita alami adalah sesuatu yang berulang. Semua orang pernah mengalami hal yang sama. Sama-sama pernah merasakan kematian, rasa sakit, pengkhianatan sampai kejahatan.

We suffer in imagination than in reality. (Seneca, hlm 128)

Next!

Imunisasi mental. 

Ini adalah salah satu bab yang unik banget buat saya. Ternyata, membayangkan kemungkinan terburuk dari suatu peristiwa dapat membuat diri menjadi lebih tahan banting ketika bencana itu datang.

So, kita mesti menderita sebelum penderitaan itu sendiri datang dengan sendirinya?

Em, ya bukan gitu sih. 

Membayangkan kemungkinan terburuk yang akan diterima tentu berbeda dengan membuat diri merasa menderita. Ibarat suntikan imunisasi yang memasukkan kuman penyakit yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh, mental juga perlu diberikan imunisasi agar memiliki antibodi yang kuat ketika kejadian buruk itu tiba. 

Misalnya?

Karena saya emak emak, maka contoh termudahnya adalah anak. Saya kerap memulai hari dengan membayangkan bahwa anak akan mengisi hari ini dengan bertingkah nakal, enggan tidur siang, sampai menolak makan. 

Percaya atau enggak, ketika jadi emak emak, hal simpel begini aja bisa merusak mood seharian. Betapa pentingnya menyadari bahwa anak merupakan bagian yang terpisah dari diri kita yang juga memiliki pikiran sendiri yang unik.

Stop. Next-nya baca sendiri yak. Saya mau cuci piring dulu.






3

drama korea My Secret Romance
themoviedb.org

Judul: My Secret Romance
Pemain: Sung Hoon, Song Ji Eun, Kim Jae Young
Rilis: April 2017
Jumlah Episode: 13 


Drama Korea memang punya varian genre yang buanyaaaaaak bangeeeeet. Menemukan drama Korea yang bagus itu ibarat menemukan jodoh paket lengkap yang soleh, kaya, dan ganteng.

Cukup susah menemukan drama Korea yang sempurna secara plot cerita, kegantengan artis pemerannya, dan ending yang kece.

Cerita sebagus Goblin saja masih membuat saya merasa kecewa dengan cerita opening yang rada boring. Sedangkan drakor W, oke banget secara plot pembukanya, tapi gak oke banget setelah episode 8 ke atas.

While youre sleeping masih menjadi drama yang cukup sempurna buat saya. Karena ceritanya lucu, artisnya ganteng, dan plotnya apik banget dari opening sampai ending.

My secret Romance yang akan dibahas di cerita kali ini tergolong yang biasa aja. Plot bisa, pemeran utama juga biasa, tapi adegan romantisnya cukup membaut jiwa emak emak saya terhibur.

Sinopsis

Kalau bicara soal drama My Secret Romance, rasanya tak ada rasa atau ide cerita yang menonjol. Tokoh utamanya yakitu Cha Jin Wook, seorang CEO dan Lee Yu Mi seorang ahli gizi mengawali kisah cintanya dengan bobo bareng.

Gegara cinta satu malam seperti ini, Lee Yu Mi sangat malu untuk bertemu lagi dengan Cha Jin Wook. Sialnya, mereka ditakdirkan bertemu kembali sebagai karyawan dengan bosnya (ya iyalah ketemu, kalau enggak ya dramanya gak bakal dibuat).

Cha Jin Wook yang emang sebenarnya udah kepincut dengan Lee Yu Mi, berusaha untuk terus mengganggunya setia hari dengan cara apapun. Mulai dari komplain masalah kerjaan sampai soal hal remeh temeh lainnya.

Sampai akhirnya mereka berdua kembali bersama gegara perjalanan dinas. Mereka saling mau mengaku tentang perkara di awal perkenalan mereka berdua yang bisa dibilang tidak enak.

Ketika mereka kembali bersama, masalah baru muncul dari bapaknya Cha Jin Wook yang gak setuju dengan status sosial Lee Yu Mi yang tergolong biasa aja. Apalagi, emaknya Lee Yu Mi adalah artis film panas, ia semakin melarang anaknya untuk berhubungan lebih dalam dengan Lee Yu Mi.

Poin Plus Drama Ini

Apa yaaaaa? Drama ini berasa seperti cerita Wattpad bergenre CEO-CEO posesif. Biasanya sih genre begini merupakan favorit para ciwi ciwi plus emak emak macam saya. Hahaha.

Yah, saya gak bisa dibilang suka juga sih. Plot cerita yang sangat mudah ditebak tanpa adanya konflik yang berarti memang membuat drama ini tak akan bisa menang jika dibandingkan dengan Weightlifitng Kim bok Joo atau Bad Guys.

Akan tetapi, drama ini cukup apik kok untuk menemani akhir pekan Anda yang kesepian. Adegan yang sudah romantis bertaburan bagai bintang di dalam drama ini. Karena yah, memang cuma ini yang ditonjolkan dari drama My Secret Romance.

Selain itu, adegan ending drama ini cukup oke, ga seperti drama Korea yang selalu punya kisah ending yang boring abis.

Selain itu, saya cukup kagum bahwa si artis pemeran Cha Jin Wook, Sung Hoon  bisa memerankan tokoh yang gentleman bangat waktu berhadapa dengan Lee Yu Mi namun mendadak bisa memasang wajah khas ke-bapak-an saat menduga bahwa adik tiri Lee Yu Mi adalah anaknya. Ini unchh banget lah.

Saya gak nyangka aja sih dia bisa memasang ekspresi khas lelaki yang punya empati. Drama ini cukup populer di Korea tetapi punya rating yang sangat rendah, yakni kurang dari satu persen.   
 
7

Love in the Moonlight
noseinabook.co.uk
Love In The Moonlight
Rilis : 2016
Kanal Produksi: KBS
Rating akhir: 22.5
Pemeran: Park Bo Gum, Kim Yoo Jung

Drama yang diperankan Park Bo Gum ini sempat memiliki rating yang tinggi di jamannya saat itu, tahun 2016. Saya yang memang bukan penggemar drama sageuk, sama sekali tak tertarik sampai akhirnya saya menonton drama Encounter yang mengubah perspektif ganteng oppa menjadi berkiblat pada Park Bo Gum.

Sinopsis

Kalau dipikir, saya tak merasakan alur cerita yang berbeda dari drama ini dengan pola drama lawas. Ini adalah kisah putra mahkota yang tinggal di era Joseon. Putra mahkota pemarah ini berada di situasi politik yang gonjang- ganjing karena perdana menterinya sedang berhasrat untuk menyingkirkan seluruh anggota kerajaan. Secara perlahan anggota kerajaan dibunuh satu per satu dimulai dari ibunya Lee Young,  si putra mahkota.

Kebetulan, jodoh yang akan jadi pemeran heroine di drama ini adalah anak dari pemberontak yang menyebabkan kerusuhan di Joseon sepuluh tahun yang lalu. Kebetulan pula, Hong Ra On, si anak pemberontak ini terlikit hutang dan dijual ke biro penyuplai kasim, semacam pembantu gitu di kerajaan.
Berhubung kasim itu mesti lelaki, terpaksa lah Ra On menjalani kehidupannya di kerajaan sebagai lelaki. Pertemuannya dengan pangeran putra mahkota di luar istana, membuatnya merasa sahabat dekat bagi pangeran.

Sudah dapat ditebak, bahwa mereka akan saling jatuh cinta dengan cepat. Sudah dapat ditebak pula, cowok second lead yang juga suka pada Ra On, bukan hanya berakhir di kehidupan menjomblo tanpa cinta, tapi juga mati dengan tragis. Terkadang jalan kehidupan di drama Korea memang sering pahit bagi tokoh yang tak penting.

Poin Plus

Buat saya daya tarik drama ini benar benar terpusat pada tokoh Park Bo Gum. Di mana dengan wajah imut nan tampan luar biasa itu ia bisa memerankan karakter Lee Young yang complicated.
Perubahan moral juga terjadi pada tokoh Lee young. Sebagai seorang raja, ia berhasil merubah karakternya yang serampangan menjadi lebih strategis, layaknya seorang raja yang besar. Selain itu, poin yang membuat drama ini sedikit berbeda dengan pendahulunya adalah momen saat kedok penyamaran terbongkar tidak dihiasi dengan adegan marah-marahan. Justru sang putra mahkota merasa senang bahwa ia tidak benar-benar gay.

Poin Minus

Alur ceritanya terlalu mainstream, mudah ditebak. Yah, sebenarnya semua drama Korea mudah ditebak, kecuali yang genrenya misteri.

Apa lagi ya, emmm susah untuk mengingat hal negatif dari drama yang ada mas Bo Gum-nya. Ah iya, konflik utamanya yakni perebutan tahta tidak begitu greget. Cara cara licik yang digunakan komplotan perdana menteri yang jahat juga terasa datar-datar saja, kurang kejam. Intinya, yang menarik dari drama ini benar-benar hanya adegan romantika babang Bo Gum.

Kisah Resolusi di Ending

Drama Korea sering mengeliminasi kisah ending dengan cara yang tidak sehebat kisah pembukanya, misalnya W atau Goblin. Tapi, menurut saya ending di drama ini lumayan oke lah. Resolusi nya bisa terbilang cukup logis dibandingkan drama W.

Sekian lah. Saya mau mencuci piring dulu. Salam emak emak.
1



Judul: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 254

Sebenarnya saya agak ragu untuk memilih karya Ziggy untuk diulas. Karena dari nama penulisnya saja sudah rumit, apalagi karyanya! Ternyata, saya salah karena sudah berekspektasi yang buruk sedari awal, hihi.

Buku ini justru terasa sebaliknya. Ceritanya terasa sederhana, namun jadi istimewa karena disajikan dengan tokoh aku  berupa anak kecil berumur enam tahun yang suka baca kamus. Menurut saya penulis berhasil membuat kesederhanaan ceritanya menjadi unik dan manis untuk dicerna pembaca.

Berkat tokoh aku pula lah, saya meneteskan air mata. Betapa anak kecil hampir selalu menjadi korban utama kebodohan orang dewasa. Fuah, saya benci menjadi dewasa.

Sinopsis

Di tanah lada adalah cerita tentang kehidupan keluarga tak harmonis yang diceritakan dari sudut "aku", gadis enam tahun bernama Salva yang tergila-gila pada buku kamus. Tokoh ayah Salva adalah lelaki yang tak tahu diri, suka menghamburkan uang dengan berjudi, kerap melakukan kekerasan pada istri dan anaknya, singkatnya tipe lelaki sampah yang tak berguna.

Tokoh "aku" menggambarkan karakter ayahnya dengan paragraf deskripsi sebagai hantu, sosok yang selalu membuat dingin suasana rumahnya. Meski begitu, rasanya Salva tidak menunjukkan gambaran emosi kebencian pada ayahnya, lebih kepada takut atau kecewa.  Bahkan, penulis kerap mengubah emosi negatif yang muncul menjadi bahan yang mengandung humor gelap. Mungkin ini salah satu asyiknya membaca dari sudut pandang tokoh anak kecil. 

Cerita ini diawali dengan kematian kakeknya yang akan membawa keluarga mereka pindah ke rusun Nero, rusun jelek dekat kasino favorit si tokoh ayah. Setelah mendapatkan warisan, perilaku ayah Salva semakin menggila. Ia menjadi semakin kasar dan semakin giat berjudi.

Petualangan Salva dimulai dari rusun Nero, di mana ia bertemu tokoh bernama P, seorang anak kecil laki-laki berumur sepuluh tahun yang juga sama-sama sering dianiaya oleh ayahnya. Dengan cepat mereka berdua segera terpaut erat. 

Suatu peristiwa besar terjadi. Orang tua Salva berkelahi lagi. Sebuah perkelahian yang besar sampai Salva dan ibunya terusir dari rusun Nero. Tapi, Salva yang sudah telanjur terikat emosi dengan P tak segan meninggalkan ibunya dan kembali ke rusun Nero untuk bermain dengan P.

Dari sinilah petualangan Salva dengan P dimulai. P yang juga terusir dari rusun memutuskan untuk mengikuti Salva kabur ke rumah neneknya di tanah yang kaya akan lada (sepertinya sih maksud penulis ini adalah Lampung). Dua orang anak kecil, berbekal telepon genggam, tanpa uang sepeser pun berniat pergi dari Jakarta menuju Tanah Lada tanpa pengawasan orang dewasa. Perjalanan panjang inilah yang membuka ruang baru untuk Salva dan P dalam memaknai kehidupan. Stop, saya sudahi spoilernya sampai di sini.

Poin Plus-Minus di Tanah Lada

Ini adalah cerita yang umum dan seringkali kita dengar. Kekerasan di dalam rumah tangga masih kerap mewarnai tumbuh kembang anak  menjadi poin yang sangat bagus untuk menemani tokoh utama bermain. Yang membuat cerita ini terasa begitu berbeda adalah sudut pandang Salva sebagai anak berumur enam tahun dalam menceritakan kepedihan dengan gayanya yang unik. Meski genrenya sedih pake banget, tapi Salva dengan gaya polosnya itu membuat saya lebih santai dalam menikmati cerita yang penuh derita para tokohnya. 

Terkadang buku ini terasa sedikit menjemukan karena "aku" dari sudut pandang Salva seringkali meracau khas anak kecil. Beberapa poin cerita jadi kurang terasa gregetnya namun di beberapa latar kejadian lainnya justru racauan ini terasa begitu menghanyutkan. Menurut saya, bagian Salva yang suka meracau memang sedikit terlalu banyak.

Cinta Anak yang (Katanya) Abadi *Spoiler Alert

Saya pernah membaca tentang hal ini di Instagram teman, bahwasanya cinta anak kepada orang tuanya itu abadi. Seandainya ada anak yang benci pada orang tuanya itu lebih kepada rasa rindunya yang tak terbendung pada kasih sayang yang alpa ia dapatkan. 

Entah itu benar atau tidak, tapi saya cukup setuju bahwa setiap anak pastilah berharap ia akan dicintai sepenuh hati oleh kedua orangtuanya. Endingnya yang miris membuat saya teringat dengan ending film Parasite. Nyelekit, tapi begitulah rasanya realita. Recommended.


 
2

Dear World Bana Alabed


Penulis: Bana Alabed
Penerbit: GPU 
Tahun: 2018
Jumlah Halaman: 204 

Rasanya batu kali ini, Saya merampungkan buku yang isinya hanya dua ratus halaman tapi menguras air mata sampai seember. Di samping mendeskripsikan soal kekerasan rezim pemerintah di daerah Aleppo Timur, buku ini juga mengangkat soal kemanusiaan dan kasih sayang di antara anggota keluarga.

Singkatnya, Dear world adalah catatan seorang gadis kecil di Aleppo, Bana Alabed, yang menjadi korban perang berkepanjangan antara pemerintahannya dengan kelompok pemberontak. Aleppo kala itu dibagi menjadi dua bagian. Aleppo barat yang diisi banyak pendukung rezim pemerintah menjadi satu-satunya daerah yang aman dari gempuran bom. Sedangkan Aleppo Timur, tempat tinggal Bana, menjadi tempat yang paling banyak dihancurkan oleh tentara pemerintah.

Saya sangat tersentuh ketika membaca bagian yang ditulis oleh ibu Bana. Ibu Bana berhasil sekali mencungkil perasaan saya yang juga sudah jadi emak-emak. Bagaimana  perasaan  seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan anaknya di tengah perang yang sedang berkecamuk.

Ketika kita dihadapkan oleh suatu keadaan yang seketika berubah, otomatis kita langsung bisa membanding-bandingkan dengan keadaan sebelumnya. Nah, ibu Bana dengan sangat berhasil membuat tulisan yang menyayat hati pembacanya. Ia menuliskan bahwa dulu ketika perang belum berkecamuk, tak pernah dibayangkan bahwa sekadar jalan-jalan di taman kota bersama keluarga adalah suatu kenikmatan yang sangat besar nilainya. Tak pernah ia bayangkan bahwa ia akan hidup dengan cara yang begitu keras, ditengah badai kematian tetangga-tetangganya. 

Hiks, ada satu kalimat dari ibu Bana yang membuat saya sangat sedih sebagai seorang ibu. " Mengeraskan hati pada hal-hal mengerikan adalah berkah sekaligus kutukan." 
1

Re Perempuan karya Maman Suherman



Judul buku pertama: Re:
Penulis Maman Suherman
Penerbit: KPG
Jumlah Halaman: 171


Judul buku kedua: peREmpuan
Penulis: Maman Suherman
Penerbit: KPG
Tahun: 2016
Jumlah Halaman: 204

Buku ini saya ketahui dari kuis berhadiah yang diadakan akun Instagram perpustakaan digital Ijakarta. Awalnya saya memang terpaksa baca buku ini demi iming-iming hadiah. Tapi pada ujungnya ternyata saya jatuh cinta.

Buku karangan Kang Maman Suherman ini mengangkat tentang kehidupan pelacur lesbian pada tahun 80an. Luar biasa ya, tahun segitu sudah ada pelacuran, lesbian pula. Seperti kata Andre Hirata dalam novel Orang-Orang Biasa: prostitusi adalah profesi tertua umat manusia. 

Oh, iya buku ini terdiri dari dua seri, yang pertama berjudul Re: dan yang kedua berjudul peREmpuan. Saya akan bahas langsung kedua-duanya.

Btw, karena ini ulasan dua buku yang dijadikan satu, akan lebih banyak spoiler yang tak sengaja tertulis. Jadi, buat yang benci spoiler, jangan gebukin saya, okeh?

Sinopsis 1+2

Sesuai judulnya, Re adalah tokoh utama dalam buku ini. Profesi nya ialah pelacur lesbian. Pertemuan Re dengan mami Lani, seorang mucikari, diawali dengan kondisi Re yang saat itu sedang hamil besar. Ia tak berdaya dan tak punya uang. Mami Lani dengan lembutnya menawarkan bantuan. Yang ternyata hal ini berujung pada pemaksaan diirnya untuk menjadi pelacur lesbian di Jakarta.

Demi menghidupi anaknya, Re terpaksa melakukan itu semua. Detail mengenai kerasnya kehidupan sebagai pelacur dijabarkan dengan lugas, sehingga saya sebagai pembaca jadi ikut merasakan ngeri-ngeri sedap. Mulai dari  kekerasan seksual yang sering dialami selama melayani pelanggan, sampai pada ancaman dibunuh secara keji jika ingin kabur dari Mami Lani.

Semua tulisan di dalam buku pertama dan keduanya merupakan sudut pandang dari tokoh Herman. Ia adalah seorang mahasiswa sekaligus jurnalis yang sedang mengerjakan skripsi. Ia menyamar menjadi supir pribadi Re untuk mengumpulkan data mengenai dunia pelacuran lesbian di Jakarta.

Petualangan Herman dalam menyaksikan  kehidupan keji para pelacur sangatlah beresiko. Namun, pada ujungnya ia malahan memendam rasa cinta yang mendalam terhadap Re.

Dalam buku keduanya, diceritakan bahwa Re sudah meninggal dengan kondisi tragis. Anaknya, Melur, yang sudah dewasa sedang mengenyam pendidikan di luar negeri. Secara keseluruhan isi buku kedua agak monoton, menceritakan tentang kegundahan Melur tentang ketidakadilan hukum terhadap kasus pembunuhan ibunya. Namun, ending buku keduanya ini memiliki twist yang cukup memelintir hati, wkwk. Saya suka ending yang rada pahit begini.

Hak Asasi Manusia

Tulisan kang Herman dalam buku ini sangat menyentuh soal hak asasi yang selama ini memang hanya sebatas slogan. Pembunuhan para pelacur yang dilakukan Mami Lani tak pernah diusut oleh petugas kepolisian. Padahal kejadian ini jelas bukanlah kecelakaan, melainkan kekerasan yang dilakukan pihak tertentu. Namun, kepolisian dalam buku fiksi ini tak melakukan penyelidikan lebih lanjut. 

Beberapa kali dalam buku kedua, Melur mengajukan protes keras terhadap ketimpangan hukum yang terjadi di Indonesia. Ia juga mengeluhkan soal pandangan masyrakat yang suka memandang sebelah mata profesi pelacur, sehingga tak ada satupun yang berdiri membela ketika para pelacur mendapati haknya dilanggar.

Ada satu poin lagi yang menarik dalam buku keduanya, yakni pembahasan antara Herman dan Melur soal vigilante. Saya langsung gugling terkait istilah yang baru pertama kali saya dengar ini. Vigilante adalah seseorang yang menegakkan hukum dengan caranya sendiri.

Vigilante sendiri agakanya serupa dengan fenomena persekusi, terutama pada pelaku kejahatan pencuri, perampok, atau pencopet. Masyarakat yang geram karena lambannya penegakkan hukum atas tindak-tanduk kriminal kelas bawah begini jadi brutal dan beringas ketika pelaku tertangkap oleh tangan mereka sendiri. Tak ayal kejadian persekusi yang jelas juga melanggar hukum sudah seperti menjadi tabiat masyarakat.    

Fiksi Rasa Realiti

Ini dia yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena saya terus menerus membaca testimoni orang lain bahwa buku fiksi ini sebenarnya adalah penelitiannya si penulis. Saya jadi terus bertanya dalam hati, apakah semua kebejatan Mami Lani asli atau fiksi? Semua terasa begitu nyata. Lalu, pertanyaan yang paling penting, apakah Herman aka penulis benar-benar jatuh cinta pada Re?

****

Sebagai seorang mahasiswa FSIOPOL UI, bagian krominolog, tokoh Herman sangat membuat saya ngiler untuk juga memepelajari tentang kriminalitas. Gegara komik Detektif Conan, segala hal yang berbau kriminalitas jadi terasa menarik untuk ditelusuri lebih jauh, ya kan?



1

Review Novel 1Q84
Add caption

Judul: 1Q84
Penulis: Haruki Murakami
Jumlah Halaman: 512
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2013



Adakah teman-teman yang memang sudah jadi penggemarnya Haruki Murakami sebelum membaca karyanya  1Q84?

Saya memang termasuk pembaca yang kudet. 1Q84 adalah karya perdana Haruki Murakami yang saya baca. Padahal karya fenomenal Haruki Murakami ada banyak kan, ya?

Cerita 1Q84 memang seunik judulnya. Kepala saya dipenuhi gagasan tentang berbagai kemungkinan tentang lanjutan kisah ini ketika baru merampungkan jilid pertamanya. Yah, buku ini terdiri dari tiga jilild.

Jadi, saya sarankan mending langsung beli sekalian lengkap, daripada seperti saya yang harus menahan keperihan digantung oleh berbagai asumsi dan persepsi yang kemungkinan besar bisa salah (lebay banget).

Sinopsis

Buku ini mnceritakan tentang dua tokoh yang terpisah, yakni Tengo dan Aomame. Kedua tokoh ini diceritakan secara terpisah, berselang-seling, Aomame-Tengo-Aomame-Tengo sampai buku ini berakhir. 

Tengo adalah guru private matematika di sebuah bimbingan belajar, berbadan besar seperti beruang, dan menjalani kehidupan sebagai ghost writer di sebuah majalah. Sedangan Aomome adalah instruktur seni bela diri yang juga menjalani kehidupan sebagai pembunuh bayaran.

Tengo dihadapkan pada konflik persekutuan konspirasi curang antara ia, editor majalah sastra dengan seorang penulis muda misterius, untuk memenangkan sebuah penghargaan sastra. Sedangkan Aomame sendiri dihadapkan dengan konflik batin dalam dirinya sendiri dalam menghadapi perubahan dunia yang ia tinggali. Setelah melewati jalan darurat bawah tanah, ia merasa tersesat. Ia menghadapi banyak realita kehidupan yang tak sesuai dengan apa yang sudah ia ketahui. Rembulan yang mendadak ada dua, dan juga tentang kepolisian Jepang yang mendadak berganti seragam tanpa sepengetahuannya.

Mereka berdua sama-sama dilatari oleh kisah masa kecil yang tak bahagia. Tengo yang masa kecilnya sering dipaksa ikut melakukan pekerjaan bersama ayahnya di hari Minggu. Sedangkan Aomame dipaksa ikut masuk ke dalam sekte keagamaan yang ia benci oleh kedua orang tuanya. 

Ada kalimat yang pernah dikatakan Aomame tentang masa kecilnya yang juga menjadi tag line di sampul buku ini:

Kekerasan tidak selalu bersifat fisik
Luka tidak selalu mengeluarkan darah

*ini mirip banget ya sama tagline-nya anak jaman sekarang: sakit tapi tak berdarah

Dalam perjalananya, pelan-pelan kita akan menemukan benang merah di antara kedua tokohnya. Tengo adalah cinta pertama Aomame di sekolah dasar. Meski kelihatannya kedua tokoh ini menghadapai konflik yang sama sekali berbeda, nyatanya mereka dituntun pada sebuah konflik utama yang sama yakni Sakigake, sebuah sekte keagamaan yang misterius.

Sekte ini tidak digambarkan dengan gamblang dan masih disimpan sebagai rahasia sampai buku pertama ini selesai. Kemungkinan besar di buku selanjutnya akan membahas hal ini  dengan lebih jelas.

Kesan Membaca 1Q84

Novel terjemahan ini termasuk sangat bagus. Terjemahannya bahkan terasa sangat Indonesia. Good job buat penerjemahnya lah. 

Setiap tokoh diceritakan dengan sangat detail. Mulai dari cara hidup mereka, latar belakang, masa kecil, kehidupan seks, bahkan sampai soal pilihan makan sehari-hari. Hebatnya ialah Haruki Murakami bisa meramu pendeskripsian yang detail tanpa membuat pembaca merasa bosan. 

Awalnya saya sama sekali tak menduga bahwa novel ini akan merujuk ke dalam kasus misteri. Parahnya saya bahkan tak tahu kalau cerita ini berjilid sampai tiga.

Saya langsung syok begitu menghabiskan lima ratus halaman tanpa tahu apa konklusi dan solusi dari konflik yang diusung. Hiks. Berasa seperti haus dan ingin minum, tetapi yang bisa dilakukan hanya membuka tutup botolnya saja. Kalau ingin meneguk isinya harus bayar lagi. Wkwkwk. 

Latar Belakang Budaya Jepang


Mungkin karena saya penggemar jejepangan, saya tidak terlalu terkejut dengan kelugasan Haruki Murakami dalam mendeskripsikan gaya hidup Tengo dan Aomame. Pilihan hidup mereka untuk melajang dan melakukan seks bebas memang sudah jadi budaya yang lumrah di sana.

Selain itu, ada beberapa adegan dalam buku ini yang sama sekali tak patut dibaca anak baru gede (ABG). Misalnya saja ada adegan Aomame melakukan threesome dengan teman yang baru saja ia temui, sesama perempuan. Di belakang buku in memang tertulis bahwa ada batasan umurnya yakni lima belas tahun. Namun, saya tak setuju. Menurut saya setidaknya harus berumur dua puluh tahun untuk membaca buku ini dan memahami maksud cerita tanpa perlu terpengaruh oleh pilihan hidup para tokoh utamanya.

Namun di balik semua itu, khas orang Jepang yang selalu mendahulukan etos kerja juga ditampilkan dengan jelas. Baik Aomame dan Tengo, mereka sama-sama ditampilkan sebegai individu yang mandiri. Mereka mengerti tentang apa yang mereka mau dan cara mendapatkannya. Saya suka.

****

Sekian review saya kali ini. Buku ini sungguh luar biasa karena kontennya benar-benar padat dengan detail deskripsi dan narasi. Pembaca akan sangat mengenali para tokoh utamanya sebelum dilanjutkan dengan uraian konflik di buku selanjutnya. 1Q84 juga banyak memuat karya sastra lama seperti 1984 George Orwell dan penulis besar dari Rusia Anton Chekov. Btw, karya dua penulis ini tersedia di app Ipusnas. Selamat menikmati buku bagus dengan rasa gratis.  




2

Drama Korea Hello Monster
id.wikipedia.org


Drama lawas yang dirilis sejak tahun 2015 in ternyata cukup menarik. Saya sempat skeptis saat melihat cover dramanya. Hehe, saya kira adegan dalam drama ini akan lebih banyak didominasi adegan pacarannya ketimbang misterinya. Ternyata tidak.

Malah sekarang saya sedang tergila-gila dengan akting tokoh utama dalam drama ini: Seo In Guk. Dengan konten yang minim adegan pacaran dan karakternya yang angkuh setengah mati, ia jadi sedikit terlihat seperti Benedict Cumberbatch di serial Sherlock Holmes. Aaaaaaak banget lah!


Blurb

Tokoh Lee Hyeon yang diperankan Seo In Guk adalah anak genius yang diduga psikopat oleh ayahnya sendiri. Waktu kecil, ia pernah tidak sengaja menembakan pistol pada ibunya. Insiden ini secara tidak langsung juga mempengaruhi salah persepsi yang dilakukan oleh ayah Lee Hyeon.

Suatu hari, Lee Hyeon ikut ayahnya ke kantor polisi. Secara tak sengaja ia bertemu dengan tersangka pembunuhan berantai, Lee Joon Young. Mereka bercaka-cakap tentang suatu hal yang akan sangat disesali Lee Hyeon di masa depan. Lanjutannya, Lee Joon Young si tersangka, melarikan diri dari penjara,  kemudian membunuh ayah Lee Hyeon yang saat itu berprofesi sebagai psikolog. Sedangkan adiknya Lee Hyeon hilang secara misterius.

Setelah tumbuh besar, Lee Hyeon yang tinggal di Amerika kembali ke Korea karena menerima email tentang pentunjuk keberadaan adiknya pada suatu kasus pembunuhan. Di titik inilah ia bertemu dengan Jang Nara yang berperan sebagai detektif Cha Ji An, wanita yang akan merebut hati Lee Hyeon di ending cerita.

Yang Spesial dalam Drama Ini


Buat pecinta drama korea bergenre detektif, Hello Monster termasuk salah satu yang bagus menurut saya. Selain karena penokohannya yang kuat, baik tokoh utama sampai karakter jahatnya, cerita romantis di dalam drama ini tak terlalu banyak merebut rasa misteri yang jadi genre utamanya. 

Kasus yang ditampilkan di awal drama juga cukup baik, yakni tentang anak orang kaya yang mengalami semacam sindrom rasa inferior, kemudian berujung jadi psikopat yang membunuh para perempuan. Tapi, kalau dibandingkan dengan drama detektif lain, kasus pembunuhan dalam Hello Monster  tergolong biasa saja. Masih kalah menegangkan dibandingkan dengan kasus pembunuhan yang menghiasi drama While You're Sleeping.

Selain itu, tokoh Park Bo Gum yang memerankan Min, adik Lee Hyeon yang psikopat, juga mengundang perhatian. Inilah kesalahan saya yang fatal. Saya menonton Encounter terlebih dahulu yang notabenenya Park Bo Geum selalu memamerkan senyum manis sebagai Kim Jin Hyuk. Sedangkan di film ini, saya harus mengkonsumsi senyum psikopat dengan wajah semanis Park Bo Geum. Hiks, saya jadi sedih.

Saya salut banget lah sama artis-artis yang mampu dikasih peran apapun. Mau jadi jahat, baik, semua mereka lakoni dengan sepenuh hati. Setelah menelan banyak senyum ala psikopat dari Park Bo Geum di film ini, saya jadi kembali sadar, bahwa semua manusia di dalam drama adalah kepalsuan, wkwkwk.

Pelajaran yang dapat diambil dalam film ini ialah rata-rata psikopat itu terbentuk dari pengalaman masa kecil yang tak bahagia. Anak yang mengalami kekerasan, kejadian yang membuat trauma, sampai anak yang mengalami pelecehan dari keluaurga terdekatanya sendiri cenderung memiliki potensi untuk jadi psikopat lebih besar. Tokoh psikopat yang jadi sorotan utama di dalam drama ini, Lee Joon Young, juga mengalami penolakan dari keluaranya sendiri saat masih kecil.

Saya pernah membaca buku psikologi yang membahas tentang pemikiran para pelaku kriminal berantai seperti ini. Dikatakan di buku itu bahwa kejadian traumatik di masa kecil membuat beberapa bagian otak yang mengendailian sifat empati menjadi tidak berkembang. Hal inilah yang membuat mereka jadi sosok yang sadis terhadap mahluk hidup lain. Ciri utama yang perlu diperhatian ialah kekerasan terhadap binatang peliharaan sedari kecil.

Kisah Romantika

Ini dia daya tarik utama drama korea yang tak boleh dilewatkan untuk dibahas. Saya cukup ketagihan dengan interaksi Jang Nara dengan Seo In Guk yang berasa manis. Tarik ulur yang tak jelas di anatar mereka berdua, bahkan sampai ending cerita pastilah membuat para cewek penggemar drakor geregetan. Sayangnya, rating drama ini di Korea sana justru rendah, hanya sekitar 5,1. 

Buat saya kekurangan drama ini terletak pada kisah ending yang kurang menggigit. Tapi, tetap worth it lah ditonton sampai selesai.




1

Labels