Menu

Review Novel Aruna dan Lidahnya: Harmonisasi Konflik dalam Balutan Kuliner Nusantara


Judul buku: Aruna dan Lidahnya
Pengarang: Laskmi Pamuntjak
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 2014
Jumlah Halaman: 427

Jujur, awalnya tertarik dengan novel "Aruna dan Lidahnya" ialah karena pesona mas Nicholas Saputra yang selalu wara wiri di iklan film ini.

Berhubung saya masih belum bisa nonton bioskop karena masih punya dedek bayik, maka baca novelnya bisa jadi alternatif yg murmer. Bukan murah lagi sih sebenarnya, malahan gratis karena saya baca via aplikasi I-Jak.

Blurb

Aruna adalah seorang konsultan wabah yang ditugasi menjadi bagian dari tim investigasi flu burung. Misinya yakni melakukan penyidikan ke 8 daerah yang terkena dampak dalam waktu dua minggu. Banyaknya tempat dan waktu yang singkat membuat Aruna frustasi. Namun, Nadezhda dan Bono, teman-teman Aruna sesama hobi makan, justru memanfaatkan momen ini untuk mengikuti tim investigasi Aruna dengan tujuan wisata kuliner Nusantara.

Perihal wabah flu burung yang menjadi poros utama dalam kisah ini mengalami berbagai kendala di lapangan, seperti politisasi di kalangan pejabat atas, pemalsuan informasi pasien, sampai pada konflik tuding-menuding antara pegawai yang terlibat, dikemas dalam harmonisasi yang manis dengan konflik kecil macam wisata kuliner nusantara. 


Realita Sosial + Cerita Kuliner

pexels.com

Setiap daerah menyimpan cerita perjalanan dan kulinernya masing masing. Ini salah satu poin yang membuat saya terus melahap plot cerita dalam kecepatan konstan. Ada salah satu cerita tentang pasien dan petugas kesehatan yang berkolaborasi mengarang informasi palsu agar pasien dapat kabur dari rumah orang tua yang selama ini terlalu mengkungkungnya.

Poin kuliner yang menonjol menurut saya yakni saat di Surabaya. Pendeskripsian yang sangat detail mengenai komposisi Rujak Soto yang berhasil membuat saya ikutan ngiler dan berasa ingin langsung terbang ke Surabaya untuk ikutan nyicip. Peringkat duanya yakni Medan, di mana Bono dan Nadezhda sedang tergila-gila dengan rasa Kari Bihun yang menurut mereka infinite

"Bagaimana bisa perpaduan antara bihun dan kari yang kita sudah sama-sama tahu rasanya jika dipadukan bisa menciptakan rasa yang seperti ini?" -Aruna dan Lidahnya 

Laksmi Pamunjtak

Awal membaca buku ini, saya lumayan kebosanan karena rentetan peristiwa ditulis dengan amat sangat detail. Ya maklumi kemampuan baca saya ya, yang tiap hari cuman baca buku dongeng hewan untuk balita. Jadi baca novel yang rumit dikit, kepala langsung pening.
Namun, saya terus memaksakan diri untuk membaca sampai dapat konfliknya dan malahan ketagihan dengan perpaduan alur konflik utama yang dibalur dengan sisi kulineran-nya. Saya sedikit berharap bahwa Aruna dan Bono akan menjadi sepasang kekasih (belum bisa move on dari film AADC, hehe).

Namun, Laksmi Pamunjtak, membuat keseluruhan novel menjadi sesuatu yang terasa alamiah dan realistis. Endingnya pun walau menggantung tetap memberikan dampak yang tak mengecewakan. Karena begitulah rasa realitas di dalam fiksi: tak selalu bahagia, namun tak juga terlalu terpuruk. Saya suka buku ini.

Saya juga suka dengan konflik politisasi flu unggas yang disajikan. Menurut saya ini teguran manis untuk Indonesia yang memang sudah saatnya mengakhiri tradisi buruk semacam ini: mengambil keuntungan atas proyek yang melibatkan kepentingan banyak pihak.


Random Though

Sebenarnya saya juga lupa ini cuplikan dari halaman yang ke berapa, karena setelah saya cari lagi tidak saya dapatkan. Tapi ini bagian yang menjadi favorit karena menempel dalam ingatan begitu dalam.

"Ada seorang suami yang mendadak kehilangan penglihatanya. Ia berkisah bahwa justru dengan tak punya mata, ia baru tahu bahwa rasa semangka ternyata semenyegarkan pagi buta. Ia juga mendadak tahu cara membedakan mood istrinya dari nada suara yg sebelumnya tak pernah ia sadari. Ia tahu kapan istrinya PMS, tahu kapan istrinya merasa bahagia. Intinya adalah justru tanpa penglihatannya, ia dapat melihat dengan lebih banyak."

Btw, kalau baca novelnya pastikan baca yang bagian deskripsi penulis ya. (setelah baca bagian ini, saya berasa jadi keset Welcome yang majang di depan pintu)

Rating: 4/5


Selamat membaca, semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment

Labels